image

Poster by IRISH @ posterfanfictiondesign.wordpress.com

Tittle : Heal Me, Love Me | Author : Rach | Genre : Medical, Romance, Family, Angst | Lenght : Chaptered | Main cast : Bae Suzy, Xi Luhan, Oh sehun | Other cast : Kim Jongin, Jung Soojung

 
Happy Reading~

•••

(Luhan’s Apartemen)

Setelah pembicaraan yang baru saja menyelesaikan masalah diantara mereka itu. Luhan yang sejak tiga hari lalu seakan tak peduli lagi dengan logika yang selama ini selalu ia gunakan saat melakukan sesuatu, tengah asik mengurung dirinya didalam Apartemen ditemani dengan beberapa botol Vodka yang membuatnya kehilangan kesadaran dan berakhir tidur dalam keadaan mabuk dan bangun dalam keadaan pusing, seperti itu terus selama tiga hari ini. Ia rasa ini bukan hal berlebihan dalam situasi seperti yang ia rasakan saat ini.

Hyung!!! Apa kau ada didalam?” Suara ketukan pintu yang terdengar bersamaan dgan suara teriakan pria dibalik daun pintu itu terdengar sangat kencang.

“Luhan Hyung! Buka pintunya!” Jongin ikut menyuarakan perintahnya. Pria Tan yang menemani Sehun saat ini, terus saja ikut meng-gedor daun pintu dengan kekuatannya.

Aish*t! Kenapa aku tak pernah tahu password Apartemennya!” Sehun mengumpat pada dirinya sendiri, betapa bodohnya ia saat ini karena tak pernah ingin tahu hal-hal kecil tentang Luhan, seperti password Apartemennya.

“Aku akan panggil Security.” Pria Tan itu tampaknya tak kehilangan akal seperti Sehun yang saat ini hanya terus menggunakan otot-nya untuk membuka pintu terkunci itu.

Dengan berlari cepat, Jongin mencari Security yang pasti memiliki Master Key untuk Apartemen dibangunan ini, dan dugaannya tepat. Security itu dengan sigap membuka pintu Apartemen Luhan yang sudah satu jam lalu di-gedor oleh Sehun dan Jongin.

Hyung!!!” Sehun memekik, berjalan cepat kearah Luhan yang tengah duduk diatas permadani yang menjadi alas ruang tengah-nya, wajah pucat, kemeja putih yang sudah berantakan ditubuhnya yang saat ini menyandar dibawah sofa yang menoleh kearah Sehun dan Jongin yang sudah berdiri didepannya.

“Sehun-ah…” Luhan membuka suara, mata sayunya sekuat tenaga ia buka untuk menatap jelas kearah Sehun yang terlihat sangat panik saat ini. Dengan cepat Sehun meraih tubuh Luhan dan merebahkan dokter tampan itu diatas sofa. Jongin yang melihat sikap Sehun hanya terdiam, ia rasa phobia Sehun benar-benar sudah sembuh saat ini.

Hyung… Maafkan aku. Maafkan aku karena sudah membuatmu seperti ini.” Sehun tak bisa menahan isak tangisnya, ia berkali-kali mengeratkan genggamannya ditelapak tangan Luhan yang terasa sangat dingin. Air mata terus saja lolos dari kedua iris-nya, membiarkan cairan bening itu membasahi sela-sela jari Luhan yang berada digenggamannya. Sang empu-nya hanya terdiam karena sudah kehilangan kesadarannya lagi.

Setelah memindahkan tubuh terkulai tanpa tenaga milik Luhan, pemuda itu- Oh Sehun, memilih untuk bermalam disini, mendudukan dirinya disofa samping tempat tidur dimana Luhan sudah kehilangan kesadarannya. Kedua mata bulan sabitnya yang terasa berat tak ia biarkan untuk terpejam. Ia merasa dirinya tak berhak untuk tidur saat Kakak semata wayangnya ini dalam keadaan menyedihkan seperti saat ini.

Hyung, kau sudah bangun?” Suara bariton khas Oh Sehun menyapa telinga Luhan yang baru saja membuka kedua mata sembabnya.

“Jam berapa sekarang?” Luhan membuka suara dengan pertanyaan tak bermakna itu, kedua tangannya menopang tubuh lemasnya agar terduduk diatas tempat tidur didalam kamarnya itu.

“Jam 10 pagi.” Jawab Sehun singkat, ekspresi khawatir dan cemasnya jelas tercetak diwajah pucatnya.

“Apa kau menginap disini semalam? Kau tidak tidur semalaman?” Luhan kembali melempar tanya, tatapan tajam ia tujukan untuk Sehun. Oh Ayolah, bahkan Sehun hampir mengulum senyum- begitu mendapati Luhan yang seperti biasa, selalu mempertanyakan hal-hal yang membuatnya khawatir dengan Sehun.

“Iya, aku menjagamu disini semalaman.” Saut Sehun dengan suara datarnya, tentu saja ia tak ingin memperlihatkan rasa senangnya disaat seperti ini.

Luhan mengangguk-anggukan kepalanya yang lemas, melipat kedua bibirnya kedalam dengan hembusan nafas panjang setelahnya.

Hyung-“

“Sehun-ah..” baru saja Sehun memanggil, Luhan sudah memutus ucapan sang Adik dan balas memanggil pria muda didepannya itu.

“Aku tak ingin kau merasa bersalah denganku. Perasaan itu… perasaan yang kau rasakan untuk Suzy—- itu bukan salahmu. Bukan kau yang mengendalikan perasaan yang semakin besar itu untuk Suzy, tapi otakmu yang memberi perintah untuk semakin tenggelam kedalam perasaanmu untuk Suzy.” Luhan berucap dengan beberapa kalimat panjang, kedua mata beningnya menatap kearah Sehun yang diam membisu.

“Suzy gadis baik. Dia pasti akan selalu mendukung apapun yang kau lakukan. Dia dengan senang hati akan selalu mendengarkan apapun keluh-kesahmu. Dia akan selalu setia menyambut kedatanganmu dengan sikap manisnya..” Luhan mengulas senyum tipis, cuplikan demi cuplikan yang mengkilas balik kenangannya tentang sang mantan- terngiang dikepalanya.

“Suzy tidak tahan dengan Alkohol, jadi jika dia sudah meminun Alkohol itu berarti perasaannya benar-benar tidak sedang baik. Suzy tak terlalu suka dengan aroma parfum yang menyengat, kau harus mengurangi sedikit semprotan parfum ditubuhmu. Suzy tidak suka suasana berisik dan ramai, kau pasti tahu betul yang satu itu.” Sambung Luhan masih dengan suara rendahnya, kedua tangannya saling mengeras dibalik selimutnya, matanya yang bergetar masih setia menatap kearah Sehun yang menatap tajam kearahnya.

Hyung, kenapa kau membicarakan hal itu? Aku tidak ingin-“

“Aku percaya kau bisa membahagiakan Suzy dengan caramu sendiri. Terima kasih Sehun, setidaknya aku pernah merasakan kebahagiaan bersama Suzy sebelum dia berbahagia bersamamu.” Luhan mengukir senyum diwajah tampannya, dwimaniknya sudah sepenuhnya tergenang air mata. Tapi dengan sekuat tenaga Luhan tahan agar tak memberontak untuk meloloskan diri, Luhan tak ingin terlihat lemah lagi didepan Sehun, Ia benar-benar ingin berusaha melepaskan Suzy untuk Sehun.

•••

“Apa hari ini aku berhasil membuatmu bahagia?” Sehun kembali melempar tanya, kini tatapannya beradu dengan kedua iris coklat Suzy yang baru saja menatapnya.

“Iya.” Jawab Suzy dengan ekspresi bahagianya, tentu saja Suzy tak berbohong tentang perasaan bahagianya saat ini. Untuk pertama kalinya sejak menderita agoraphobia, ia datang ke Taman bermain yang sangati ramai seperti ini, dengan seorang pria-pula.

“Berarti… Janjiku dengan Luhan Hyung sudah aku tepati.” Balas Sehun yang kembali menyunggingkan senyumannya, sedetik kemudian ia melonggarkan tautan jari-jari tangannya dan melepas genggaman yang sejak 3 jam lalu menggenggam erat tangan mungil Suzy, yang saat ini tengah menatap lengan Sehun melepaskan genggamannya.

“Bae Suzy, malam ini… Aku akan menyelesaikan apa yang sudah aku mulai bersamamu.” Sehun kembali bersuara, rentetan kalimat yang belum bisa dicerna oleh fikiran Suzy, lantas membuat gadis itu hanya menatap lurus kearah Sehun yang memberikan tatapan dalam dari dwimanik-nya tepat menusuk iris coklat Bae Suzy.

“A-apa maksudmu, Sehun-ssi?” Suzy membulatkan kedua bola matanya, tatapan penuh tanya ia tujukan untuk Sehun yang masih menatap kearahnya.

“Maafkan aku yang dengan bodohnya datang kedalam hidupmu dan mengusik hubunganmu dengan Luhan Hyung, sampai membuat kalian berpisah. Tapi sungguh, aku tak pernah berharap akan jadi seperti ini.” Sehun memulai konversasinya, suara berat dan rendahnya terdengar tanpa semangat. Pandangan mata tegasnya kini berpaling kearah lampu-lampu cantik didepan sana.

“Jika Luhan Hyung berfikir kau tidak hanya diciptakan untuknya- mungkin itu benar. Ya, kau juga diciptakan untuk bertemu denganku. Kau dan aku- kita sama-sama diciptakan untuk saling melengkapi. Seperti sejak awal bertemu, kau dan aku saling mengandalkan, saling membutuhkan bantuan dan bahkan saling menyembuhkan phobia kita masing-masing. Kita dipertemukan untuk itu semua-” Sehun yang masih mengutarakan apa yang sejak tadi ia susun didalam hatinya. Suaranya semakin terdengar rendah dengan beberapa getaran yang tersirat.

Suzy yang menjadi lawan bicaranya masih diam membisu, nafasnya bahkan tercekat setiap mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Sehun. Kedua manik jernihnya masih setia memandang kearah Sehun.

“.. Hanya untuk itu, tidak lebih.” Sambung Sehun yang baru saja menyelesaikan ucapannya yang sempat menggantung diudara. Kini wajah tampannya menoleh kearah Suzy, membalas tatapan redup Suzy yang kini sedikit terhalang cairan bening dipelupuknya.

“Percayalah, ini bukan tentang perasaanku yang sudah tidak lagi ada untukmu. Hanya saja… ini bukan waktu yang tepat untuk aku mempertahankan perasaan ini padamu.” Pria Oh itu masih bersuara, memalingkan tubuhnya hingga menghadap Suzy dengan kedua lengannya terjulur dan dengan lembut menyentuh kedua bahu gadis penulis itu.

“Aku sangat berharap jika memang Tuhan menciptakan takdir yang indah untuk kita, Tuhan pasti akan mempertemukan kita kembali- dengan waktu yang tepat dan cara yang lebih indah. Aku berharap jika waktu itu benar-benar tiba, tidak ada lagi yang harus tersakiti karena perasaan kita, dan tidak ada lagi rasa bersalah saat merasakan perasaan ini. Tidak seperti saat ini.” Sehun merengkuh tubuh Suzy yang bisa ia rasakan sedikit bergetar. Astaga, Sehun baru saja menyiram air garam diluka hati Suzy yang masih basah.

“Aku tak akan menyuruhmu untuk melupakanku, itu hak mu ingin melupakan aku dan perasaanku ini atau tidak. Aku juga tak akan menyuruhmu untuk menunggu waktu dimana kita akan bertemu lagi nanti. Kau hanya perlu menjalani hidupmu yang baru, hadapilah dunia yang baru- dimana kau sudah bisa terlepas dari belenggu phobia sialan itu. Kau berhak bahagia Suzy, berbahagialah.” Tutur Sehun lembut, kedua tangannya semakin mengeratkan pelukannya ditubuh Suzy begitu Ia sadar gadis itu baru saja terisak didada bidangnya. Kedua lengan mungil itu sangat erat melingkari punggung Sehun.

Setelah konversasi yang hanya didominasi oleh suara Sehun, kedua anak muda itu kembali pada kenyataan yang harus mereka hadapi seorang diri. Untuk yang kesekian kalinya saat ini, Suzy kembali ditinggalkan oleh orang-orang yang disayangi. Apa Tuhan memang menuliskan takdir untuk Suzy hidup seorang diri? Entahlah.

•••

4 years later…

Suara ramai tepuk tangan terdengar setelah sosok wanita dengan gaun sederhana yang melekat ditubuh mungilnya naik keatas panggung kecil disebuah acara talkshow minggu sore ini disebuah pusat perbelanjaan yang memiliki toko buku besar didalamnya.

Gadis yang dikenal sebagai seorang penulis buku-buku Best Seller itu dengan senang hati menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh pembawa acara terkenal di negri gingseng ini.

“Jadi, anda benar-benar mantan penderita agoraphobia?” Pembawa acara wanita berusia awal tiga puluhan itu kembali melempar tanya kearah gadis yang duduk disebrangnya.

“Iya, aku dulu menderita agoraphobia. Tapi sekarang sudah tidak lagi, seperti yang kalian lihat.” Jawab sang gadis dengan tawa kecil setelah mengucapkan kalimat yang menandakan dirinya baik-baik saja saat ini.

“Jika boleh tau, bagaimana kau bisa melawan phobia itu, Penulis Bae?” Wanita paruh baya itu kembali bertugas, sebuah pertanyaan yang baru saja terlontar itu lantas membuat sang narasumber kembali mengukir senyum diwajah cantiknya.

“Jika aku menjawab karena sebuah takdir, apa kalian percaya?” Jawab sang penulis wanita itu. Gigi kelinci yang menjadi pemanis bibir merah cherry-nya terlihat jelas begitu sang gadis mengukir senyum lebar saat mendapat tepuk tangan dari para orang-orang yang menontonnya di sekitar panggung, tak terkecuali sang pembawa acara yang tersenyum manis pada sang penulis- Bae Suzy.

Ya, saat ini Suzy bukan lagi gadis yang terkurung disebuah bangunan yang disebut rumah seorang diri. Hidupnya telah berubah, gadis yang dulu selalu tersiksa karena agoraphobianya kini sudah berani menghadapi hiruk-pikuk dunia yang sangat ramai seolah tak memiliki waktu untuk beristirahat.

Suzy sudah dikenal banyak orang berkat buku-buku novel buatannya yang selalu terpajang di Rak buku dengan gelar Best Seller disetiap toko buku di Korea Selatan ini, bahkan buku-bukunya terjual dengan terjemahan berbagai bahasa negara lain disana.

Setelah menyelesaikan acara talkshownya, Suzy melanjutkan jadwalnya untuk Fansign ditoko buku besar dipusat perbelanjaan mewah ditengah kota Seoul itu. Menghabiskan waktu dua jam untuk menggoreskan tinta pulpen dikertas maupun alas lain yang diinginkan oleh para penggemarnya- lantas membuat jari tangan Suzy terasa sangat pegal.

Tapi itu tak mengurangi semangat Suzy untuk mencari beberapa buku yang ingin ia beli ditoko buku itu. Dengan langkah antusias, Suzy berjalan menuju rak-rak buku berisi buku-buku novel maupun biografi yang mengandung hal-hal berbau Psikologi yang sudah ia tulis daftar judulnya dan menjadi buku yang wajib ia beli ditoko buku.

Langkahnya terhenti didepan lorong dimana ada seorang gadis kecil kira-kira berusia 2 tahun tengah berjalan gontai dengan langkah-langkah mungilnya yang sangat hati-hati menuju sebuah rak buku-buku bergambar disebrang Suzy. Gadis kecil itu berkali-kali menjulurkan tangan mungilnya yang tidak mampu meraih buku bergambar jerapah disampulnya dengan bibir yang mencuat, Suzy yakin anak itu sedang kesal saat ini.

Dengan senyum merekah dibibirnya, Suzy mendekat kearah anak kecil itu. Tubuhnya menekuk hingga berlutu dan meraih buku bersampul jerapah yang lantas membuat gadis kecil itu menoleh kearahnya. Mata bulat dengan bulu mata lentiknya mengerjap berkali-kali, bibir mungil berwarna merah muda itu sedikit terbuka memperlihatkan beberapa gigi susu yang berjejer rapih. Astaga, bahkan Suzy hampir saja menggigit pipi tembam itu saat ia memberikan buku itu pada si kecil dan membuat gadis kecil itu tersenyum bahagia.

“Seul-ah, Apa yang kau lakukan disini, sayang?” Seorang wanita dengan dress selutut berwarna biru langit menghampiri balita yang baru saja membuat Suzy gemas.

Si gadis kecil tak menjawab, ia menjulurkan lengan mungil yang menggenggam sebuah buku pada wanita dewasa yang baru saja merengkuh kedalam pelukannya.

“Kau mendapatkannya dari mana, sayang?” Sang wanita kembali bertanya pada si balita. Mengecup beberapa kali pipi tembam, yang tentu saja membuat Suzy iri karena dari tadi sangat ingin menyentuh pipi menggemaskan itu.

“Bibi…” Si balita bernama Seul itu mengeluarkan satu kata dengan sebelah tangan yang terjulur menunjuk Suzy disebrangnya.

Hmm? Ah… Terima kasih, Nona.” Wanita yang Suzy yakini adalah Ibu dari si gadis kecil itu menundukan kepalanya memberi hormat sekaligus melempar senyum ramah pada Suzy.

“Ah iya. Tidak masalah.” Suzy ikut membungkuk sekilas, membalas senyum ramah seorang Ibu muda dihadapannya.

“Kalau begitu, aku pamit dulu.” Wanita bersurai hitam ikal itu kembali menyunggingkan senyum seraya berpamitan pada si penulis Bae.

Suzy menghembuskan nafas panjang. Jika boleh jujur, Suzy sangat iri dengan ibu muda yang sudah memiliki anak menggemaskan seperti balita bernama Seul tadi. Tanpa sadar Suzy mengukir senyum merekah, memutar arah pandangnya mengikuti langkah sepasang Ibu dan Anak tadi. Namun beberapa detik kemudian, kedua sudut bibirnya tertarik kembali. Iris coklatnya membulat dengan bibir merah cherry yang sedikit terbuka.

“Oh Sehun…?” Sebuah nama yang bahkan masih disimpan rapih diotaknya, kembali terucap. Ya, baru saja Suzy melihat sosok pria bertubuh tinggi dengan kulit putih susu dan wajah tampannya— tengah mengambil alih balita dari gendongan seorang wanita yang baru saja bertukar sapa pada Suzy beberapa menit lalu.

•••

Alunan musik barat yang dinyanyikan oleh Jasmine Thompson dengan judul Send My Love (To your new love) mengalun indah didalam sebuah cafe bernuansa klasik dipinggir kota Seoul. Beberapa pengunjung yang datang untuk sekedar mengisi waktu luang disenja ini, terlihat ikut bersenandunh menikmati lagu mellow tersebut.

“Aku bertemu dengan Sehun-ssi.” Ucap Suzy ditengah aktivitasnya menyeruput Ice Americanno dicafe pinggir jalan Seoul.

“Benarkah? Dimana? Kapan?” Sahut Soojung dengan sedikit memekik, dan jangan dilupakan kedua bola mata yang membulat menatap Suzy.

“Tadi sore. Saat acara fansign di Toko buku Coex Mall. Itu pun jika tidak salah lihat.” Saut Suzy dengan suara datar dan ekspresi yang sengaja ia buat tak bersemangat.

“Kalian saling menyapa?” Gadis Jung itu masih menatap lawan bicaranya, memperlihatkan bahwa ia sangat antusias dengan cerita sang lawan bicara.

“Melihatku saja, tidak.” Satu hembusan nafas panjang terdengar dari gadis Bae yang kembali menyurup minumannya.

Hm? Jadi, dia tidak melihatmu, begitu?” Soojung masih antusias, menopang dagu dengan telapak tangan kanannya diatas meja.

“Tidak, dia bersama istri dan anaknya.” Suzy menggelengkan sebelum menundukan kepalanya menatap dasar meja bundar yang menjadi pembatas Suzy dan Soojung saat ini.

Mwo?!! Istri dan anak? Kau bercanda. Sejak kapan Sehun menikah?” Soojung memekik, telapak tangan yang tadi menopang dagu— kini mendobrak meja tak bersalah didepannya.

“Entahlah. Aku juga tidak yakin.” Hembusan nafas panjang kembali terdengar bersamaan dengan gidikan kedua bahu lemas Suzy berikan.

“Bagaimana bisa sepulang dari Kanada dia sudah memiliki keluarga. Demi Tuhan, Jongin tak mengatakan apa-apa tentang itu.” Kedua mata Soojung masih membulat, gelengan kepala tanda tak percaya-pun ia tampilkan.

“Kau fikir itu hal penting, sehingga Jongin Oppa harus menceritakan hal itu padamu, Eonni?” Balas Suzy yang kembali menarik nafas panjang. Oh Ayolah! Siapa yang tak sedih melihat pria yang sudah lama tak kau lihat, ternyata sudah bahagia dengan keluarga kecilnya sendiri? Menyakitkan.

“Ah, ya. Benar juga. Tapi tetap saja, kan itu penting untukmu— atau tidak, mungkin.” Soojung mengangguk pelan, menggigit bibir bawahnya dan melirik Suzy setelah bersuara dengan intonasi pelan diakhir kalimatnya.

“Hentikan, Eonni. Dan, tunggu dulu… kenapa calon pengantin wanita masih berkeliaran dimalam pernikahannya, Hmm?” Suzy mendelikan mata lentiknya dengan dengusan ringan disela nada bicara kesalnya.

“Aku bosan. Jongin bahkan sibuk bersenang-senang bersama temannya. Dia bilang pesta sebelum melepas keperjakaan, bodoh sekali.” Kali ini giliran Soojung yang menghembuskan nafas panjang, kedua bahu sempitnya ia tekuk dalam-dalam dengan wajah yang sengaja dibuat terlihat murung.

“Kau juga ingin merayakan pesta sebelum melepas keperawanan?” Suzy menahan tawa kecilnya. Astaga, bukankah sepasang kekasih yang akan menikah besok itu terlihat menggemaskan satu sama lain?

“Haruskah?” Soojung menaikan kembali bauu lemasnya, menatap Suzy dengan mata berbinar seolah baru saja mendapat sebuah hadiah mewah dari gadis yang ia anggap sebagai adiknya itu.

“Jangan konyol. Aku tak ingin pengantin wanita terlihat kacau besok pagi.” Suzy mengeluarkan tawa kecil. Melambaikan telunjuk lentiknya tanda ketidak setujuan atas keinginan Soojung.

“Aku bahagia, Suzy-ah. Aku harap kau cepat mendapat kebahagiaanmu juga.” Soojung mengulum senyum lebar. Bahkan kedua mata sipitnya sudah terlihat basah begitu menatap Suzy dengan satu genggaman tangan ditelapak tangan Suzy yang berada diatas meja.

“Aku ikut bahagia, Eonni.” Suzy ikut tersenyum manis. Menumpuk sebelah tangannya diatas genggaman tangan Soojung dan mengelus lembut punggung tangan Soojung dibawahnya.

•••

Suasana ramai dan hangat begitu terasa digedung cukup mewah dipusat kota Seoul pagi ini. Beberapa orang tua yang terlihat menawan dengan setelan hanbook melekat ditubuhnya, menyapa dengan perasaan senang pada orang tua pengantin yang menyambut dengan senyum hangat.

Tak ingin membuang waktu, Suzy segera melesat kedalam ruangan dimana pengantin pria masih sibuk mempersiapkan diri sebelum menyambut tamu-tamunya diacara sakral bagi dirinya dan calon istrinya beberapa jam kedepan. Tak terlalu lama menyapa Jongin, gadis yang saat ini memakai gaun berwarna coklat susu dengan rambut ikal kecoklatan tergerai sampai punggung dengan stiletto dan clutches berwarna senada dengan gaunnya— keluar dari ruangan khusus mempelai pria.

“Suzy-ah, Annyeong…” suara khas milik pria terdengar dari balik tubuh mungil Suzy yang detik itu juga merasa bergetar begitu mendengar suara yang begitu ia hafal dan sejak lama tak menyapa indera pendengarannya beberapa tahun ini.

“Luhan Oppa…” Suzy membalik tubuhnya, menatap pria yang tengah menyunggingkan senyum manisnya, yang berhasil membuat Suzy kehilangan kekuatan pada kakinya yang tiba-tiba terasa sedikit lemas saat ini.

“Bagaimana kabarmu, Bae Suzy?” Luhan. Ya, pria yang saat ini menenakan kemeja putih polos dengan setelan jas dan celana formal berdiri tepat dihadapan Suzy. Pria yang masih memiliki senyum yang manis dan tatapan yang begitu hangat, kembali menyapa Suzy hari ini setelah hampir empat tahun lalu tak saling bertemu.

“A-aku baik. Kau sendiri, bagaimana kabarmu Oppa?” Jawab Suzy dengan sedikit gugup. Hey! Tentu saja gadis Bae ini merasa gugup, jangan lupa… pria didepannya saat ini adalah mantan kekasihnya.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.” Balas Luhan dengan gidikan bahu dan senyuman yang sejak tadi belum lepas dari bibir merahnya. Kuatkan Suzy untuk tetap fokus dan berhenti menatap bibir ranum itu sekarang juga!

“Baguslah kalau begitu.” Suzy mengulum senyum tipis. Membalas tatapan hangat Luhan dengan tatapan tak kalah hangat dari dwimanik kecoklatannya yang sedikit terhalang bulu mata lentiknya.

Luhan mengangguk pelan. Tanpa permisi mengelus lembut puncak kepala Suzy yang detik itu mengulum senyum— sebagai respon atas tindakan mantan kekasihnya barusan.

“Aku dengar kau sudah menjadi penulis yang terkenal seantero Korea Selatan, Suzy-ah.” Luhan kembali memulai konversasi. Kini kedua telapak tangannya ia masukan kedalam saku celananya. Berdiri santai dua langkah didepan Suzy.

“Tidak, itu berita berlebihan, Oppa.” Suzy melambaikan tangan sebagai pengiring jawabannya. Menarik nafas dalam demi mengendalikan dirinya. Tapi sungguh, kali ini Suzy bingung kenapa dirinya bisa terlihat santai setelah sikap hangat Luhan barusan.

“Benarkah? Aku fikir itu tidak berlebihan. Tapi, kau sudah terbiasa bekerja diluar rumah ‘kan?” Luhan menarik salah satu alisnya keatas. Kembali mengulas senyum tipis dengan tatapan yang terlihat penasaran.

“Iya, kalau yang itu aku mengakui dengan bangga hati.” Suzy mengangguk mantap. Sesuai jawabannya, saat ini ia tengah membanggakan dirinya didepan Luhan, mantan kekasihnya.

Hm, aku ikut senang kalau begitu.” Luhan ikut menganggukan kepalanya. Memberikan senyuman bangga pada Suzy yang tertawa kecil melihat ekspresi Luhan yang terlihat seperti seorang Kakak yang bangga pada Adiknya.

“Ah, terima kasih Oppa.” Saut Suzy setelahnya. Sungguh, aura saat ini sudah terlihat begitu hangat diantara keduanya.

“Kau sudah bertemu Sehun?” Sebuah pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Luhan, seketika membuat Suzy menarik kembali sudut bibirnya yang tadi tengah mengulum senyum.

Hm? Su-sudah.” Suzy mengangguk singkat. Jika Luhan peka, ia pasti tahu perubahan mood Suzy saat ini.

“Benarkah? Dimana? Sepertinya dia belum datang kesini.” Luhan menyahut penuh antusias. Melirik kekiri dan kekanan sekilas, demi mencari keberadaan Sehun disekitarnya.

“Kemarin di Coex Mall, itupun jika aku tidak salah lihat.” Balas Suzy dengan nada suara rendahnya. Menggaruk dahinya yang jika boleh jujur, tidak terasa gatal sama sekali.

“Ah ya, kemarin memang Sehun datang kesana bersama-“

Oppa…” suara sopran terdengar menyapa Luhan tepat lima langkah didekat mereka berdua, melambaikan lengan mungilnya dengan senyuman manis diwajah cantiknya.

“Hyemi-ya. Kau sudah datang? Dimana Seul?” Luhan membalas, mengulurkan satu tangan agar sang wanita meraih lengannya. Menarik sang wanita agar berdiri didekatnya.

“Dia bersama Sehun diluar ruangan.” Jawab sang wanita bernama Hyemi itu. Wanita yang memakai gaun hitam selutut terlihat begitu anggun melekat ditubuh rampingnya setelah melirik kelarah pintu keluar gedung.

“Suzy-ah, kalau begitu aku menemui Jongin dulu. Nanti kita berbincang lagi.” Luhan kembali bersuara pada Suzy, melirik pintu ruangan Jongin didekat sana.

N-ne, Oppa.” Angguk Suzy. Gadis Bae mengulas senyum tipis guna membalas senyuman ramah yang diberikan Hyemi dan Luhan padanya.

•••

Tiga ketukan Suzy sematkan dipintu kayu sebuah ruangan yang dikhususkan untuk pengantin wanita menunggu acara dimulai. Dengan senyum menggembang, Suzy membuka pintu dan mendapati sosok wanita cantik dengan gaun putih cukup mewah dengan hairdo cantik dirambutnya.

“Astaga, Demi Tuhan! Kau sangat cantik, Eonni.” Suzy memekik, menutup bibirnya yang membulat dengan telapak tangan, memperlihatkan bahwa ia benar-benar kagum dengan kecantikan Soojung saat ini.

“Suzy-ah, kau tahu aku sangat gugup sekarang. Astaga! Apa yang harus aku lakukan?!” Soojung menarik nafas panjang. Meraih kedua tangan Suzy dan memggenggam erat telapak tangan Suzy demi menyalurkan kegugupannya.

“Tenang, tenang. Tarik nafas yang dalam lalu keluarkan.” Suzy merengkuh tubuh Soojung. Mengembangkan senyum hangat guna menenangkan Kakak cantiknya itu.

“Aku berharap kau cepat merasakan hal ini Suzy-ah.” Soojung menjulurkan kedua lengannya, mengelus lembut punggung sempit Suzy yang tengah memeluknya.

“Bagaimana menurut Jongin Oppa? Kalian sudah bertemu?” Suzy mengendurkan pelukannya. Merapihkan sehelai rambut yang terurai diwajah Soojung dan menyimpannya dibelakang telinga sang pengantin.

“Belum. Karena hal itu aku merasa hampir gila! Aku sangat gugup membayangkan bagaimana penampilannya saat ini, kau tahu?!” Soojung menggeleng cepat. Tubuhnya kembali menegang, memberi tanda bahwa ia benar-benar gugup sampai sekarang.

“Dia sangat tampan. Aku jujur akan hal itu.” Suzy mengulum senyum setelah mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Soojung.

“Benarkah? Kau sudah bertemu dengannya?” Soojung kembali memekik. Jangan dilupakan semburat merah yang bersarang diwajah cantiknya.

“Ya, sebelum menemuimu Eonni.” Balas Suzy dengan anggukan singkat.

“Apa Jongin kedatangan banyak tamu?” Soojung melangkah kecil, mendudukan diri disofa khusus mempelai wanita yang berada lima langkah dari posisi mereka tadi.

“Ya, bahkan aku bertemu dengan Luhan Oppa.” Saut Suzy dengan suara pelan seraya mengikuti langkah Soojung didepannya.

“Benarkah? Astaga! Lalu, apa yang terjadi? Kalian saling menyapa?” Soojung memekik. Langkahnya terhenti dan dengan cepat menoleh kebelakang— menghadap Suzy.

“Ya, kami berbincang sebentar.” Suzy mengangguk singkat. Menyunggingkan senyum tipis untuk meyakinkan Soojung bahwa hal itu tak masalah baginya.

“Astaga Suzy-ah. Apa sekarang kebahagiaanmu akan dimulai kembali? Dengan Luhan-ssi maksudku.” Soojung mengulum senyum, menyenggol lengan kiri Suzy untuk menggoda gadis Bae itu.

“Jangan konyol, Eonni.” Kekehan kecil Suzy berikan bersamaan dengan tatapan ajam untuk Soojung yang ikut tertawa.

“Lalu… Apa Sehun-ssi datang hari ini?” Soojung melirik dan bertanya dengan suara pelan yang terdengar sangat hati-hati.

“Sepertinya. Aku tadi juga bertemu dengan Istrinya.” Jawab Suzy dengan gidikan kedua bahunya dan hembusan nafas panjang setelahnya.

“Mereka datang?” Soojung menatap lurus kearah Suzy dengan tatapan terkejutnya. Oh Astaga, Soojung tak ingin melihat adiknya ini sedih dihari bahagianya.

“Iya, sepertinya begitu.” Angguk Suzy singkat sebagai pengiring jawaban.

“Kau baik-baik saja, Suzy-ah?” Soojung menjulurkan lengan kanannya. Menggenggan sebelah tangan Suzy dan mengelus lembut. Tatapan cemas ia sematkan untuk Suzy yang balas menatapnya.

“Tentu saja. Jangan berlebihan Eonni.” Suzy mengulas senyum lebar. Tentu saja ia tak ingin Soojung mencemaskannya saat ini.

•••

Acara pemberkatan yang sangat sakral sudah berlalu lima belas menit yang lalu. Para tamu-pun mulai dipersilahkan untuk mencicipi hidangan yang disediakan seraya memberikan waktu bagi sepasang pengantin baru itu menikmati waktu bersama keluarga mereka.

Tak terkecuali bagi Suzy, gadis yang sejak tadi berdiri didepan meja dessert yang disediakan, sedang asik menikmati minuman seorang diri.

“Sudah terbiasa berada ditempat ramai seperti ini?” Suara bariton seorang pria terdengar dari balik tubuh mungil Suzy.

Dengan cepat Suzy meletakan gelas yang tadi ia genggam dan berbalik kebelakang. Iris coklatnya membulat dan sedikit bergetar begitu mendapati sosok pria didepannya berhasil membuat degup jantungnya bertalu-talu tak karuan.

“Sehun-ssi?” Suzy berucap dengan suara rendahnya. Menahan nafas sejenak guna mengendalikan degup jantungnya.

“Bagaimana kabarmu, Bae Suzy?” Sehun mengulum senyum tipis dibibir mungilnya. Mata tegasnya tengah menatap lembut kearah Suzy.

“A-aku baik-baik saja. Kau sendiri?” Jawab Suzy dengan suara sedikit bergetar. Andai Sehun tahu, saat ini Suzy hampir saja lupa caranya bernafas. Sial, rutuk Suzy dalam hati.

“Aku juga baik-baik saja. Bahkan lebih baik dari sebelumnya.” Hembusan nafas panjang Sehun lemparkan, bersamaan dengan senyuman hangatnya yang semakin mengembang.

“Ah, syukurlah kalau begitu.” Suzy ikut menghembuskan nafas panjang. Setidaknya, rasa gugup mulai memudar sedikit demi sedikit.

Hm.. Bukankah mereka berdua terlihat sangat bahagia?” Sehun memutar arah pandangnya. Menunjuk sepasang pengantin baru dengan dagu lancipnya, yang sedang asik berbincang didepan sana.

“Ya, tentu saja mereka bahagia. Kau juga sepertinya sudah sangat bahagia, Sehun-ssi.” Suzy menggauk pelan. Tanpa sadar, kini sudut bibirnya tertarik dan membentuk senyuman tipis.

“Maksudmu? Aku? Tentu saja aku bahagia. Bukankah tidak ada alasan untuk kita tidak merasa bahagia?” Dengan cepat Sehun menunjuk dirinya dengan jari telunjuknya sendiri, dan tersenyum kembali setelahnya.

“Iya, benar. Sepertinya memang tidak ada alasan.” Suzy menggigit bibir bawahnya, memaksakan senyuman yang terlihat begitu aneh, menurut Sehun.

“Apa kau tidak merasa bahagia, Bae Suzy?” Sehun memajukan wajahnya, mempersempit jarak guna mengamati lebih dekat raut wajah Suzy.

“A-aku? Cukup bahagia.” Suzy sontak terkejut. Jantungnya seolah berhenti sejenak sebelum ia berdehem singkat untuk mengurangi kegugupan.

Melihat sikap gugup Suzy, lantas membuat Sehun kembali memberi jarak dari si gadis. Tentu saja ia merasa sedikit kecewa melihat keterkejutan Suzy akan sikapnya barusan. Apa Suzy takut denganku? Fikir Sehun.

“Aku dengar, kau sudah bertemu Luhan Hyung tadi.” Ucap Sehun setelah ikut berdehem singkat, dan membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering dengan orange juice yang sejak tadi ia bawa.

“Ah iya, aku juga bertemu dengan I-istrimu.” Balas Suzy dengan suara rendah dan pelan diakhir kalimat. Melirik Sehun yang baru saja meletakan gelas kosong dimeja yang berada dibelakang Suzy.

Hm? Istriku?” Dengan cepat Sehun kembali menatap Suzy. Dengan kerutan didahi, Sehun mencoba mencerna ucapan Suzy barusan.

“Iya. Dimana anakmu, Sehun-ssi?” Suzy mengangguk dua kali, kemudian menyebar pandang seolah-olah mencari sosok yang ia cari. Hey, asal tahu saya Suzy benar-benar tak berniat ingin melihatnya lagi.

Hmm… Apa yang kau maksud dia?” Sehun bergumam, kemudian meraih kedua pundak Suzy dan memutar tubuh si gadis agar mengikuti arah pandangnya.

“I-iya. Dia cantik, seperti Ibunya.” Suzy yang saat ini seolah membeku, kemudian mengangguk begitu melihat gadis kecil yang ia lihat bersama Sehun kemarin, tengah berada digendongan Luhan yang berdiri didepan wanita bernama Hyemi itu.

“Tentu saja, Ayahnya juga tampan.” Kekehan kecil Sehun lontarkan. Jangan dilupakan bahwa saat ini kedua tangan Sehun masih bertengger manis dikedua bahu kaku Suzy.

Hm? I-iya, aku rasa begitu.” Suzy kembali mengangguk. Mengulas senyum kaku dibibir merah cherry-nya yang ia gigit karena debaran jantung yang berlebihan saat ini.

“Ada apa dengan ekspresimu itu, Bae Suzy?” Tanpa permisi, Sehun mencondongkan tubuhnya hingga dada bidangnya tak berjarak dengan pungung sempit Suzy, dan menatap Suzy dari jarak beberapa cm. Karena saat ini wajah Sehun benar-benar berada disamping wajah Suzy.

“Be-Berapa umurnya?” Suzy yang berniat mengganti topik pembicaraan, kini semakin mati kutu begitu tatapan dalam Sehun menusuknya dari jarak sedekat ini. Bahkan deru nafas Sehun terasa menggelitik wajahnya. Stay Focus, Bae Suzy! Rutuk Suzy dalam hati.

“Tanyakan saja pada Orang tuanya.” Sehun menggidikan bahu, dan menunjuk kearah Hyemi dengan dagunya.

Suzy yang merasa tak kuasa menahan kegugupan, dengan paksa menjauhkan tubuhnya dari Sehun dengan maju 2 langkah kedepannya.

“Aku sedang bertanya dengan Ayahnya saat ini.” Ucap Suzy begitu memutar tubuh dan kembali berhadapan dengan Sehun yang terlihat mengerutkan kedua alis tebalnya.

“Ayahnya? Aku? Oh… aku rasa terjadi ke salah pahaman disini.” Telunjuk besar itu kembali Sehun arahkan pada dirinya sendiri. Sedetik kemudian tawa kecil keluar dari bibir tipis si pemuda tampan itu.

“Maksudmu?” Suzy mengerutkan dahinya, tatapan tajam Suzy fokuskan pada Sehun yang masih asik tertawa kini terdiam dan berdehem singkat.

“Aku bukan Ayahnya, dan mereka bukan keluargaku, maksudku bukan Istri dan anakku.” Jelas Sehun dengan gelengan kepala dan lambaian telapak tangan.

Ne?” Suzy sedikit memekik. Kini ekspresi terkejut begitu terlihat dengan bola mata yang membulat sempurna.

“Mereka keluarga kecil Luhan Hyung. Wanita itu Istri Luhan Hyung dan Seul anak mereka berdua.” Sehun menjelaskan dengan senyuman tipis dibibirnya. Tentu saja ia ingin tertawa mendapati Suzy mengira bahwa ia sudah memiliki keluarga kecil.

“Be-benarkah?” Suzy tergagap, dwimanik coklatnya masih membulat tak percaya. Oh jangan salahkan Suzy jika saat ini jantungnya semakin berdebar begitu mengetahui kenyataan itu.

“Iya. Apa kau kecewa dengan fakta barusan?” Sehun mengangguk. Kemudian menyelipkan kedua lengannya disaku celana dengan tatapan lurus kearah keluarga kecil itu.

“Tidak, tidak.” Suzy dengan cepat menggelengkan kepala. Kedua telapak tangan ia lambaikan seolah menegaskan jawabannya.

“Bahkan Luhan Hyung sudah lebih dulu bahagia.” Ucap Sehun dengan suara rendahnya diselingi dengan hembusan nafas panjang setelahnya.

“Ya, mereka terlihat sangat bahagia.” Suzy mengangguk singkat, kemudian mengulum senyum begitu mendapati keluarga kecil itu tengah tertawa bersama disebrang sana.

“Jadi, bagaimana denganmu?” Suara Oh Sehun kembali menggema, bersamaan dengan uluran tangan yang kembali meraih pundak Suzy agar si gadis kembali menatap kearahnya.

“Aku, kenapa denganku?” Suzy mengerutkan alis sekilas. Jujur saja, Suzy sedikit kesal dengan sikap tiba-tiba Sehun saat ini. Apa pria itu jadi skinship maniak sekarang? Fikir Suzy.

“Kapan kau ingin mencari kebahagiaan yang lebih, Bae Suzy?” Sahut Sehun dengan tatapan hangatnya, dan sentuhan hangat yang masih ia berikan dipundak milik si gadis.

“Mungkin secepatnya. Ka-kau sendiri?” Jawab Suzy setelah berdehem singkat. Ini sudah keberapa kalinya, Suzy dibuat gugup oleh Oh Sehun.

“Aku sudah menemukan kebahagiaanku.” Sehun membalas dengan ekspresi dan suara santai.

“Ah, benarkah? Baguslah kalau begitu.” Tanpa alasan Suzy merasa kecewa, dan dengan paksa ia menggerakan bahunya— berniat memberi jarak pada Sehun.

“Kau kebahagiaanku.” Ucap Sehun cepat seraya mencengkram kembali pundak Suzy agar tetap diam digenggamannya.

Ne?” Suzy memekik. Bibir merah dan Iris coklatnya serempak membulat. Nafasnya bahkan berhentik sepersekian detik.

“Ingin hidup bahagia bersamaku, Bae Suzy?” Sehun kembali berucap. Salah satu tangannya terjulur dan mengelus lembut pipi hangat Suzy yang masih dalam mode terkejutnya.

“Sehun-ssi…” Suzy bersuara lembut, selembut sikap Sehun yang dengan perlahan mengikis jarak diantara keduanya dan mengecup lembut bibir merah cherry milik gadis Bae yang tanpa sadar memejamkan matanya.

Keduanya terhanyut dalam adegan romantis yang mereka buat sendiri. Saling menggenggam tangan dan menyalurkan kerinduan melalui sentuhan lembut dan hangat diantara bibir pasangannya. Seolah tak memperdulikan tatapan dan kekehan kecil dari orang-orang yang memperhatikan. Tak terkecuali Soojung, Jongin, Luhan dan Hyemi istrinya. Untung saja, Seul si gadis kecil sudah terlelap dipelukan sang Ayah.

Disaat kesadaran akan keberadaan ditempat umum kembali merasuki fikiran masing-masing. Maka, Suzy mendorong pelan dada Sehun dan melepaskan tautan mereka guna memberi jarak diantara keduanya.

Sehun memiringkan wajahnya, menatap lurus tepat pada dwimanik berkaca-kaca milik gadisnya saat ini. Mengelus beberapa kali pipi merona Suzy dengan jari hangatnya dan mengecup sekilas kening sang gadis dengan lembut.

“Terima kasih sudah menyembuhkan phobiaku, sehingga aku bisa menyentuhmu seperti saat ini, Bae Suzy.” Ucap Sehun dengan suara pelan dan rendahnya. Senyuman merekah dibibir tipisnya. Memperlihatkan dirinya benar-benar bahagia saat ini.

“Terima kasih juga sudah menyembuhkan phobiaku sehingga aku bisa berdiri ditempat ramai seperti saat ini, Oh Sehun.” Balas Suzy dengan senyuman tak kalah merekah, hingga tanmembuat kedua matanya menyipit dan meneteskan air mata bahagia begitu Sehun mengangguk dan kembali merengkuh tubuhnya kedalam pelukan hangat.

_ The End _

Hai!!!! Aku kembaliiiiiii~

Setelah mencuri-curi waktu dan mengumpulkan mood sekuat tenaga buat nyicil nulis Fanfict ini disela-sela urusan Real life-ku. Akhirnya jadilah Chapter yang super-duper gajelas ini.

Ngga tau lagi mau bilang apa. Pokoknya mau minta maaf sebesar-besarnya karena udah sempet mengabaikan Fanfict ini. Aku tahu banget ini, Chapter akhir ini ngga sesuai sama ekspektasi kalian. Jujur, aku stuck banget mau bikin ending kaya gimana. Semoga kalian tetap suka ya!

Beribu terima kasih aku ucapkan untuk yang tetep nungguin Fanfict abal-abal ini sampai selsai. Aku benar-benar cinta kalian!❤️ Btw, Happy New year, Everybodyyyy.

Love,

Rach.

Iklan

13 pemikiran pada “Heal Me, Love Me (Final Chapter)

  1. Waahhh komawooo..sdh diupdate ceritanya..
    Akhr yg bahagia buat mereka semua yaaa.. endingnya jg memuaskan buat ku..thank once again yaa..ditunggu ff lainnya.. hwaiting

    Suka

  2. Selamat tahun baru kakak!
    Serius aku kira suzy bakal balik sama luhan pas baca scenes diatas. Udah nyesek bgt mikir sehun udah nikah dan punya anak huhuhu
    Emang paling bisa bikin plot twist deh kakak mah.
    Makasih bgt kak udah nyelesain ff ini ditengah2 kesibukannya. Aku selalu tunggu karya selanjutnya.😘

    Suka

  3. ASTAGA KA RACH! Akhirnya muncul juga… kangen kangen kangennnnn!!!!
    And then, ff favoritku selesai. Bener2 ga mgecewain kok kak, endingnya sesuai ekspektasi akuuuuu!
    Makasih banyak ka rach udah bikin ff ini. Semangat terus untuk berkarya! Selalu aku tunggu❤️❤️❤️

    Suka

  4. Udh lama ditunggu, akhirnyaaa dipublis jugaa
    Eh udh ending aja
    Aduhhh aku jga sempt ngira seul anaknya sehun untungnya bukan yeayyyyy
    Sehun so sweetttttttt
    Happy ending happy endingggggg yeyeyeye 😀

    Suka

  5. Akhirnya bisa baca anding nya… Suka bgt kak rach… Aq seneng bgt sm sikap sehun yang memutuskan apakah takdir dy dan suzy memang berjodoh… Soalnya kl dipaksakan kasihan luhan…kl skrg kan luhan udah punya keluaga jd ga ada lg yg tersakiti krn hub mereka… Ahh so sweet bgt sikap sehun dan suzy… Makasih kak rach krn udah ngeluanfin waktu buat nerusin ff ini… 😘😘😘

    Suka

  6. Akhirnya setelah sekian lama kak😁
    Hahaha kirain sehin sdh menikah dan punya anak lalu suzy balik sama luhan,tapi ternyata tdk hehehe.untunglang suzy bisa sama sehun lagi
    gomawo kak love you😙

    Suka

  7. daebakk keren, meskipun di awal aku milih suzy sama luhan. tapi tak apalah yang penting sekarang mereka bahagia semua.
    ditunggu ff lainnya

    Suka

  8. Ahhhh seneng akhirnya di completed juga, tp sedih jg krn bakal kangen sm hunzy…. kmrn sempet kepikiran macem2 krn kak Rach lamaaaa bgt ga ada kabar. Kirain sakit. Hehehe…. akhirnya mereka berenam ketemu kebahagiaan masing2.
    Mksh byk u karya ff nya kak…. hopefully bakal ada cerita baru atau update u ff lainnya. Mksh byk…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s