image

Poster by IRISH @ posterfanfictiondesign.wordpress.com

Tittle : Heal Me, Love Me | Author : Rach | Genre : Medical, Romance, Family, Angst | Lenght : Chaptered | Main cast : Bae Suzy, Xi Luhan, Oh sehun | Other cast : Kim Jongin, Jung Soojung

Happy Reading~

Hembusan angin malam begitu terasa menyelimuti sepasang kekasih yang saat ini tengah menatap satu sama lain. Ditemani oleh sinar rembulan dan bintang-bintang yang seakan menawarkan diri menjadi saksi sebuah cerita yang akan tertulis dihidup kedua anak manusia itu.

“Tapi sekarang.. Aku tahu.. bagaimana akhir cerita dari perang yang aku buat sendiri.” Sambung Luhan, saat ini bukan hanya Luhan yang menitihkan air mata. Gadis yang masih berada dalam pelukan itu juga sudah meneteskan cairan bening yang mengalir di kedua pipinya.

“Oppa…” Suzy menghela nafasnya. Bibirnya bergetar karena menahan isak tangis yang mungkin sebentar lagi akan pecah. Nafas Suzy terasa sesak, untuk pertama kalinya Suzy melihat pria yang sudah beberapa tahun menjadi kekasihnya itu menangis didepannya.

“Kau tau bagaimana perasaanku saat tahu Sehun bisa membuka kembali hatinya untuk seseorang dan Sehun bisa mendapatkan kembali kekuatannya untuk sembuh dari phobianya? Aku bahagia, sangat bahagia.” Luhan mengendurkan eratan pelukannya ditubuh Suzy, membiarkan gadis itu menatapnya dengan leluasa.

“Aku bahkan hampir gila karena terlalu bahagia saat mendengar cerita Jongin, bahwa Sehun bahkan bisa berpelukan dengan gadis itu. Setelah mendengar hal itu, aku selalu ingin meminta Sehun untuk mengenalkanku dengan gadisnya. Aku ingin tahu gadis seperti apa yang bisa membuat Sehun kembali menemukan harapan hidupnya, gadis seperti apa yang bisa membuat Sehun begitu mencintainya sampai ia lupa dengan phobia yang dideritanya. Aku ingin melihat bagaimana Sehun dengan mudahnya bisa bersentuhan dengan gadis itu.” Luhan menyunggingkan senyum tipis, membayangkan bagaimana bahagianya dia waktu itu saat mengetahui kabar bahagia yang dialami Adiknya.

“Sebelum aku meminta pada Sehun, Tuhan lebih dulu mengabulkan keinginanku. Memberitahuku siapa sosok gadis yang menjadi harapan baru dihidup Adikku, Tuhan juga mengizinkan aku melihat bagaimana dengan mudahnya Sehun bisa menyentuh gadis itu. Dan terlebih lagi Tuhan bahkan menuliskan takdir yang luar biasa, gadis yang sangat membuatku penasaran ternyata adalah gadis yang sejak lama sudah ada dihidupku, gadis yang juga menjadi harapan hidupku, gadis yang sangat membuatku ber-terima kasih pada Tuhan karena telah menciptakannya.”

“Tapi… diantara itu semua, aku tahu Tuhan menciptakan gadis itu bukan hanya untuk mengisi hidupku, tapi gadis itu juga diciptakan untuk mengisi hidup orang lain, saling melengkapi satu sama lain, memberi kekuatan satu sama lain.” Luhan masih terus bersuara, tak peduli lagi dengan mata merah dan pipi basah karena tetesan air mata.

“Oppa… Apa kau… sudah tahu semuanya?” Ucap Suzy begitu sepenuhnya yakin bahwa yang sejak tadi dibicarakan Luhan adalah tentang dirinya dan Sehun.

Luhan menganggukan kepalanya, sekuat tenaga mengukir senyum dibibirnya seraya menyelipkan helaian rambut yang terurai dipipi Suzy kebelakang telinga. Mengelus lembut pipi gadis yang sangat dicintainya, merasakan kristal bening yang melucur bebas dari dwimanik gadisnya tepat disela-sela jarinya.

“Oppa… aku.. bisa menjelaskan semuanya. Semuanya tidak seperti yang kau fikirkan.” Suzy menggelengkan kepalanya, menatap lirih dengan mata merahnya tepat kearah Luhan.

“Memang menurutmu, apa yang aku fikirkan?” Suara Luhan terdengar melemah, jari-jari tangan kanannya masih setia mengelus lembut wajah Suzy yang memanas.

“Kau berfikir seolah hubunganku dan Sehun sangat dalam. Tidak seperti itu Oppa, aku dan Sehun hanya-“

“Jika aku berfikir seperti itu, apa fikiranku salah? Suzy-ah… mungkin aku tak bisa menjadi dokter yang baik untuk menyebuhkan phobia-mu dan Sehun. Tapi aku ingin menjadi Hyung yang baik untuk Sehun dan… pria yang baik untukmu.” Luhan kembali menyunggingkan senyumnya yang terlihat sangat menyedihkan dimata Suzy.

“Oppa…” Air mata Suzy kembali meluncur deras, bibirnya bergetar saat mendengar kata terakhir yang diucapkan Luhan padanya. Rasanya begitu menyakitkan mendengar kalimat itu dengan senyuman yang melengkung dibibir Luhan.

“Aku rasa aku akan melanggar ucapanku waktu di Jeju-do, saat aku bilang-aku akan melepaskanmu jika kau yang memintanya. Aku rasa aku tidak bisa jika harus mendengar hal itu darimu. Jadi… aku sendiri yang akan melepaskanmu.” Bersamaan dengan ucapannya, Luhan melepaskan tangannya yang sejak tadi mengelus lembut wajah Suzy setelah menghapus jejak-jejak air mata yang saat ini semakin deras.

“Oppa… Andwae, aku mohon…” Suzy menggelengkan kepalanya berkali-kali, menarik kembali lengan Luhan, menggenggam erat kedua telapak tangan Luhan dengan sisa tenaga ditubuhnya yang melemas akibat rentetan kalimat itu.

“Aku yang memohon padamu agar lebih memperjelas bagaimana perasaanmu pada Sehun. Jujurlah pada dirimu sendiri.” Luhan melepas genggaman tangan Suzy, pria itu merengkuh tubuh bergetar Suzy kedalam pelukannya, membiarkan gadis itu mungkin untuk terakhir kalinya menangis dipelukan hangat Luhan.

“Aku tak ingin menyakitimu dan Sehun. Aku juga tak ingin menyakiti diriku sendiri jika memaksakan diriku untuk tetap memilikimu.” Ucap Luhan yang baru saja melepaskan tubuh Suzy dari pelukannya.

“Jangan pernah melakukan hal-hal yang akan membuatku menyesal melepaskanmu, tidak perlu merasa bersalah, karena diantara kita memang tidak ada yang melakukan kesalahan. Berbahagialah entah itu dengan Sehun atau pria lain, dan aku juga akan mencari kebahagiaanku yang baru, yang mungkin sudah disiapkan Tuhan untukku.” Luhan mengelus lembut pucak kepala Suzy, tersenyum hangat sebelum ia memalingkan tubuhnya dan melangkah menuju pintu masuk gedung Rumah Sakit. meninggalkan sosok Suzy yang baru saja kehilangan kekuatan kakinya untuk berdiri. Gadis itu duduk tersungkur dengan tangisan yang benar-benar pecah seorang diri.

***

Sejak 20 jam yang lalu berakhirnya kisah cintanya dengan seorang dokter psikiatri, gadis yang saat ini masih asik menengguk minuman yang mengandung alkohol yang saat ini sudah menjadi kaleng ke-6 nya, kini sudah mulai mengerjap-ngerjapkan matanya yang semakin berat karena ulah alkohol dan ulahnya sendiri yang sejak beberapa jam lalu mengeluarkan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.

Merutuki dirinya sendiri, mengumpat pada acara televisi yang terus berputar menemaninya melewati satu malam yang tidak ia gunakan untuk memejamkan matanya. Ia bahkan tak mempedulikan dering telepon yang terus berbunyi diponselnya sejak kemarin malam.

Sampai akhirnya kebiasaan buruknya yang sangat fatal mulai merasuki dirinya ditengah-tengah kesadaran yang hampir menurun karena alkohol yang ditengguknya. Dengan langkah gontai, Suzy melangkah keluar Apartemennya, meninggalkan gedung bertingkat tinggi itu dengan langkah terseok-seok.

Pandangannya lurus kedepan tanpa arti, membiarkan kaki-kaki jenjangnya berjalan menyusuri pinggir jalan Kota Seoul yang cukup ramai di pukul 08:00 p.m saat ini. Bukankah kalian ingat, hal ini yang sangat ditakutkan Luhan dulu, saat tiap kali Suzy mabuk? Dan sepertinya Suzy sengaja melakukan hal ini, mengingat ucapan Luhan kemarin malam agar dirinya tidak melakukan hal yang membuat Luhan menyesal melepaskannya, mungkin Suzy benar-benar ingin membuat Luhan menyesal, bahkan membuat dirinya sendiri menyesal karena tanpa sadar sudah berada dipinggir jalan yang akan sangat mambahayakan dirinya.

Tin… Tin…

Tin… Tin…

“Hya! Minggir!”

“Nona….!!!”

Suara klakson terus saja terdengar bersamaan dengan suara teriakan orang-orang yang berada disekitar lampu lalu lintas itu.

Suzy menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan, suara teriakan itu, suara klakson kendaraan yang sangat memekik dan kerumunan ramai orang-orang yang berada disekitarnya tiba-tiba membuat kepalanya pusing, keringat dingin bercucuran dikening dan pelipisnya, tubuh dan bibirnya bergetar, wajahnya semakin pucat begitu kepingan-kepingan kejadian kelamnya kembali tayang diotaknya.

Kejadian saat beberapa tahun lalu, ia harus melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri bagaimana darah bercucuran menodai tubuh kedua orangtuanya didalam mobil yang sudah hancur sebagian, meronta-ronta meminta bantuan pada orang-orang yang berada disana hanya sibuk mengamati bahkan mengambil gambar keadaan mereka, hanya beberapa orang yang masih memiliki hati nurani baik yang menghampiri dan membantu keluarga keluar dari jepitan mobil malang itu, tapi semua bantuan itu terlambat, karena Suzy sudah lebih dulu kehilangan kedua orangtuanya didepan kedua matanya. Dan karena kejadian yang paling sangat Suzy lupakan itu, membuat dirinya harus menderita phobia yang sangat menyiksanya.

***

Disebuah mobil hitam yang baru saja meninggalkan sebuah gedung sebuah perusahaan, dihuni oleh dua orang pria yang duduk dikursi depan. Menikmati alunan lagu barat yang sengaja diputar oleh pria berwajah pucat yang duduk disamping pengemudi.

“Apa kau masih merasa tidak sehat?” Jongin yang berada dikursi kemudi, membuka suara. Melirik sekilas kearah Sehun yang memejamkan mata lelahnya seraya menikmati lagu yang dinyanyikan Little mix feat Jason derulo berjudul Secret Love Song dimedia player mobilnya.

“Jongin-ah, apa menurutmu lagu ini sangat cocok untukku?” Sehun membuka matanya, menatap Jongin yang mengertukan alisnya lantaran mendapat pertanyaan aneh dari Sehun yang bahkan tidak menanggapi pertanyaannya barusan.

Eoh? Maksudmu?” Jongin melirik sekilas kearah Sehun yang kembali memutar lagu yang sama seperti yang baru saja selesai.

“Coba kau dengarkan liriknya. Apa menurutmu lagu ini sangat cocok untukku?” Sehun kembali memejamkan matanya, berusaha menenggelamkan diri pada alunan lagu yang menjadi favoritnya beberapa bulan lalu.

“Terserah! Ah.. apa kau sudah berbicara dengannya?” Tanya Jongin setelah menghembuskan nafas panjang karena tak begitu mengerti arti lagu itu.

“Siapa? Luhan Hyung?” Ucap Sehun tanpa membuka kelopak matanya yang berat, karena harus bekerja dalam keadaan yang masih sangat lemas karena ulahnya sendiri beberapa hari lalu.

“Bae Suzy.” Saut Jongin dengan suara tegasnya, melirik kearah Sehun yang baru saja membuka matanya.

“Jangan membuatku semakin sulit melupakannya, Kim Jongin!” Balas Sehun yang mendengus kesal karena pria itu terus saja membicarakan Suzy sejak kepulangannya dari Rumah Sakit tadi pagi.

Hya! Aku tidak berbohong soal itu. Memang benar Suzy yang memberitahu keadaanmu padaku, bahkan ia yang menemanimu semalaman. Tapi.. aku tak tahu kenapa tadi pagi ia tidak ada disana, apa kau tidak khawatir padanya?!” Jongin kembali berucap, suaranya sedikit tinggi karena kesal sahabatnya itu tidak percaya dengan ucapannya sejak tadi.

“Dia bahkan tidak menjawab teleponku! Aku tak ingat apa yang aku lakukan sampai nama Suzy ada didaftar panggilan keluarku kemarin malam.” Ucap Sehun yang tak kalah kesal pada Jongin, pria berdagu lancip itu berkali-kali berdecak kesal lantaran frustasi karena tak mengingat apapun saat mabuk kemarin.

Tsk!” Jongin berdecak kesal seraya menginjak pedal rem karena jalanan didepannya macet.

“Kenapa macet begini? Bukankah lampu lalu lintasnya sudah berwarna hijau?” Tanya Sehun yang entah pada siapa, ia membuka kaca mobil disampingnya karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi.

“Apa terjadi sesuatu didepan sana?” Jongin ikut bersuara, membuka kaca mobilnya begitu mendengar beberapa teriakan orang-orang yang berada dimobil didepannya.

Sehun menyembulkan kepalanya dari kaca, mencoba mencari tahu apa yang terjadi didepan sana sehingga membuat beberapa mobil didepannya tak berjalan. Betapa terkejutnya Jongin saat kedua mata tegasnya melihat sosok gadis yang sangat familiar dipenglihatannya, tengah berdiri di-zebra cross dengan ekspresi ketakutan dan wajah pucatnya.

“Oh Sehun!” Teriak Jongin saat tiba-tiba Sehun membuka pintu mobil dan lari begitu saja kearah lampu lalu lintas melewati beberapa mobil didepannya.

Jongin dengan cepat ikut keluar dari mobil dan menyusul sahabatnya itu. Kedua matanya membulat sempurna begitu sampai didekat lampu lalu lintas dan melihat pria yang anti skinship itu tengah memeluk seorang gadis yang Jongin tahu betul siapa orangnya.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Sehun pada gadis yang masih berada dipelukannya. Gadis itu itu hanya terdiam, tubuhnya bergetar dan melemas.

Hya! Kalian baik-baik saja?” Pekik Jongin yang mendekat kearah kedua orang itu, dan menarik lengan Sehun agar pindah dari zebracross ke pinggir jalan.

“Aku akan memindahkan mobil dulu, tunggu disini.” Jongin kembali bersuara dan kembali menuju mobilnya yang sempat menjadi penghalang jalan bagi mobil-mobil dibelakangnya.

“Bae Suzy, tenanglah. Ada aku disini.” Ucap Sehun dengan suara paniknya, tentu saja ia panik melihat gadis yang sejak kemarin menganggu fikirannya, kini berada dalam situasi dan kondisi yang sangat tidak pernah terbayangkan oleh Sehun.

Suzy hanya menangis sejadi-jadinya, mengeratkan pelukannya ditubuh hangat Sehun. Ia benar-benar kalut saat ini. Beberapa detik kemudian, tubuhnya semakin melemas dan pandangannya buram begitu saja, dan akhirnya ia kehilangan kesadarannya.

***

Sehun berkali-kali menghembuskan nafas kasar, kaki jenjangnya tak berhenti melangkah kedepan dan kebelakang tepat disamping tempat tidur seorang gadis disebuah ruangan VIP Rumah Sakit.

“Kenapa Luhan hyung belum datang?!” Tanya Sehun dengan nada emosinya yang mulai meluap, melirik tajam pada Jongin yang tengah duduk disofa kamar inap tersebut.

“Tenanglah. Luhan hyung sedang menangani pasiennya.” Jawab Jongin yang sejak tadi tengah sibuk memberi kabar pada Soojung tentang keadaan Suzy.

“Kenapa dia lebih mementingkan pasiennya dari pada kekasihnya!” Sehun kembali memekik, emosinya sudah berada diubun-ubun. Pasalnya sejak 20 menit lalu Suzy dirawat dikamar inap ini, Luhan belum juga datang menemuinya.

“Aku seorang dokter dan pasienku adalah prioritas utamaku.” Suara Luhan terdengar bersamaan dengan sosoknya yang masih mengenakan jas dokter. Melangkah masuk kedalam kamar inap, dan mendekat kearah Sehun berdiri.

“Tapi Suzy juga seorang pasien sekarang!” Balas Sehun yang masih terlihat kesal, bagaimana bisa Sehun tidak kesal melihat wajah datar Luhan yang dengan santainya melihat keadaan Suzy, seperti itu.

“Suzy bukan tanggung jawabku!” Luhan mulai meninggikan nada suaranya yang geram. Asal Sehun tahu, Luhan juga sangat khawatir dan takut dengan keadaan Suzy saat ia tahu Suzy dibawa ke Rumah Sakit. Tapi bagaimana mungkin Luhan mengabaikan pasien yang menjadi tanggung jawabnya hanya karena urusan pribadinya.

“Suzy masih tanggung jawabmu. Dia kekasihmu!” Seakan tak mau kalah, Sehun masih meninggikan nada suaranya. Rahangnya mengeras, menatap tajam kearah Luhan.

“Cukup Oh Sehun! Kau tidak perlu berteriak pada Luhan Hyung!” Jongin tak tahan dengan situasi menegangkan diantara Kakak-beradik itu. Dengan tatapan tak kalah tajam, Jongin menghentikan perdebatan antara pria dewasa itu. Oh Ayolah! Jongin benar-benar tak ingin perang saudara ini terjadi.

Sehun yang mendapat teriakan dari Jongin, berdecih sinis menatap Jongin. Bahkan ia merasa Jongin baru saja mengkhianatinya dan lebih membela Luhan. Dengan nafas memburu, Sehun melangkahkan kaki jenjangnya keluar kamar inap Suzy dan meninggalkan Luhan yang sejak tadi mengepalkan kedua tangannya, menahan gejolak emosi didirinya.

“Hyung, kau tahu Sehun memang seperti itu jika sedang emosi. Tidak perlu difikirkan.” Jongin menepuk pelan pundah tegang Luhan. Tentu saja Jongin paham betul bagaimana perasaan Luhan yang untuk pertama kalinya mendapat teriakan kasar dari Sehun.

“Tadi dokter bilang, keadaan Suzy tidak terlalu-“

“Aku tahu, aku sudah bertanya dengan dokter yang menangani Suzy sebelum aku datang kesini.” Ucap Luhan sebelum Jongin sempat menyelesaikan kalimatnya yang akan memberitahu keadaan Suzy.

Dokter psikiatri itu mendudukan dirinya dikursi samping tempat tidur Suzy, menatap penuh arti wajah pucat Suzy yang masih terpejam disana.

“Apa yang sebenarnya terjadi pada Suzy, Hyung?” Jongin memulai konversasi begitu dirasa Luhan sudah mulai tenang dengan emosinya.

“Aku tidak tahu.” Jawab Luhan dengan suara datarnya. Jika Jongin tahu, saat ini Luhan tengah menyembunyikan kekesalannya pada dirinya sendiri. Ia tahu betul apa yang terjadi dengan Suzy, pasti gadis yang sudah menjadi mantan kekasihnya itu mabuk dan berakhir ditengah jalan membuat phobianya kembali kambuh. Dan itu semua pasti karena ulah Luhan kemarin malam.

***

Kedua kelopak mata sayu itu mulai membuka sayup-sayup. Sang pemilik bulu mata lentik dan lebat itu berkali-kali mengerjapkan matanya yang terlihat sedikit buram pada pandangannya.

“Bae Suzy, kau sudah sadar?” Sehun bangkit dari duduknya, menajamkan pandangannya pada wajah pucat Suzy yang berekspresi datar.

“Sehun-ssi?” Kesadaran Suzy telah terkumpul, gadis itu lantas membalas tatapan Sehun yang wajahnya tepat berada didepannya.

“Apa kau masih merasa pusing?” Tanya Sehun setelah sebelumnya menekan bell untuk memanggil dokter ataupun suster.

“Ti-tidak. Kenapa aku berada disini?” Suzy yang mengedarkan pandangannya ke sekililing ruangannya saat ini, lantas mengernyitkan dahinya karena tak mengerti dengan kondisi dan situasinya saat ini.

“Kau pingsan semalam. Hya! kenapa kau bisa berada dipinggir jalan? Apa kau berniat bunuh diri?” Sehun sepertinya sudah tak lagi sabar dengan rasa penasaran yang sejak semalam menganggu tidurnya, ia tak peduli jika sikapnya berlebihan padahal gadis itu baru saja bangun.

Ne? A-aku… Pingsan, benarkah?” Iris kecoklatan itu lantas membulat, bukan salahnya kan jika ia tak mengingat kejadian karena efek alkohol yang sangat berat semalam?

“Ah… Jadi kau benar-benar mabuk berat semalam? Berarti kau tak mengingat…” Sehun menggantungkan kalimatnya diudara. Ia rasa tak perlu dikatakan jika memang Suzy tak mengingat sikapnya semalam.

“Ka-kau baik-baik saja, Sehun-ssi?” Suzy menggerakan tubuhnya, berniat mendudukan dirinya diatas tempat tidur Rumah sakit itu.

“Aku? Tentu saja. Memangnya aku kenapa?” Sehun mengangkat alis tebalnya sekilas, mengulurkan tangan dan membantu Suzy yang sedikit kesulitan untuk duduk dan menyandarkan punggungnya dikepala tempat tidur itu, entah sada atau tidak.

“Kau menyentuhku.” Jawab Suzy yang semakin menajamkan netra-nya menatap wajah Sehun yang terlihat sedikit terkejut karena ucapannya barusan.

“Ah.. Maaf, aku hanya ingin membantumu duduk.” Sehun segera melepas skinship yang tak sengaja ia lakukan dikedua lengan Suzy dan beralih menarik selimut agar menutup sampai perut Suzy.

“Semalam… Kau memelukku.” Tiga kata yang baru saja terucap dari bibir pucat gadis Bae itu, sontak membuat Sehun menghentikan kegiatannya, matanya tegasnya lantas saling bertukar pandang pada iris coklat Suzy yang juga tengah menatapnya, dari jarak sedekat ini-kurang lebih 2 jengkal telapak tangan mungil Suzy.

“Kau mengingatnya?” Tanya Sehun masih dengan air muka terkejutnya. Hey! Bahkan dengan jarak seperti ini Suzy hampir bisa mendengar detak jantung Sehun yang terdengar sangat kencang tak beraturan.

“I-iya.” Suzy menganggukan kepalanya, tanpa sadar gadis itu menghembuskan nafas panjang yang lantas membuat Sehun tersadar dan kembali mengembalikan jarak jauh dan memposisikan dirinya berdiri tegak disamping Suzy.

Sehun berdehem sekitar dua kali, meneguk saliva-nya demi membasahi kerongkongan yang sempat mengerung karena didera kegugupan yang tak jelas apa maksudnya. Sepasang bola matanya menelisik kekiri dan kekanan seolah-olah berusaha keras agar netra-nya tak beralih menjadikan gadis yang terduduk diatas tempat tidur itu menjadi atensi-nya.

“Ja-jadi, apa kau baik-baik saja, Sehun-ssi?” Suzy mengulang pertanyaan yang belum terjawab oleh si pria Oh itu, setelah ikut berdehem singkat untuk mencairkan suasana yang entah mengapa terasa canggung.

“Te-tentu saja. Hya! Kau tidak pantas mengkhawatirkanku dalam keadaanmu yang seperti saat ini.” Sehun mengukir senyum miring dibibir mungilnya, seraya kembali mengarahkan arah pandangnya untuk menatap Suzy yang ikut tersenyum sebagai respon atas jawaban Sehun.

“Aku akan memberitahu Luhan Hyung, kalau kau sudah sadar.” Sehun kembali berucap, pemuda Oh itu merogoh saku celananya, berniat mengambik ponsel yang ia simpan disana.

“Jangan! Tak perlu memberitahunya.” Dengan cepat dan suara yang sedikit berteriak, Suzy menggelengkan kepalanya tanda penolakan atas keinginan Sehun.

“Kenapa? Aku yakin Luhan Hyung pasti mengkhawatirkan keadaan-“

“Tidak, dia tidak akan mengkhawatirkanku lagi.” Suzy dengan suara yang terdengar lirih, memutus kalimat Sehun yang belum diselesaikan oleh sang empu-nya.

Hm? Maksudmu? Ah… Luhan Hyung sedang sibuk dengan pasiennya, makanya ia tak bisa menemanimu disini. Hya! Luhan Hyung tak akan mungkin mengabaikan kekasihnya-“

“Aku bukan kekasihnya lagi.” Lagi, gadis Bae itu kembali memutus ucapan Sehun. Bahkan pemuda Oh itu yang baru saja ingin protes kesal karena ucapannya dipotong, niatnya diurungkan karena mendengar tiga kata yang baru saja diucapkan gadis penulis itu.

“Apa maksudmu?!” Sehun memekik, memajukan tubuhnya demi memperjelas pendengarannya yang mungkin saja terganggu karena mendengar kalimat barusan.

“Aku sudah bukan siapa-siapa lagi untuknya.” Ucap Suzy dengan suara seraknya, wajah pucatnya ia tundukan guna menyembunyikan air mata yang baru saja menyeruak dari kelopak matanya.

Hya, Bae Suzy! Apa yang kau bicarakan?!” Sehun membulatkan kedua mata bulan sabitnya, entah kana efek terkejut atau apa, Sehun kembali menyentuh kedua lengan Suzy yang lantas membuat sang empu-nya terlonjak dan mengangkat kepalanya untuk menatap pria yang sudah lebih dulu memandangi wajahnya.

“Luhan Oppa… Sudah memutuskan hubungan kami, kemarin malam.” Seolah terhipnotis oleh tatapan tegas iris milik Oh Sehun, Suzy dengan suara serak dan isak tangisnya, menjelaskan hubungannya dengan Luhan yang sudah berakhir.

“Apa?! Bagaimana bisa?! Kau bercanda?” Sehun melempar pertanyaan retroris-nya dengan tatapan tajamnya, rahangnya mengeras. Tentu saja, penjelasan Suzy barusan membuatnya seperti tertimpa puluhan ton besi dikepalanya. Jangan fikir Sehun merasa senang karena kabar ini, ia benar-benar tak tahu apa yang harus ia rasakan saat ini.

“Apa hal itu pantas untuk dijadikan sebuah candaan?! Kau gila?!” Untuk pertama kalinya, Sehun melihat sebuah kilatan mata yang menggambarkan sebuah emosi yang meluap dari kedua iris milik gadis disampingnya itu. Sehun lantas menahan nafasnya sejenak, apa ini benar-benar nyata? Fikir Sehun.

Tanpa menjawab atau bahkan mengatakan sepatah kata, Sehun dengan cepat melangkahkan kakinya keluar kamar inap Suzy. Saat ini hanya ada satu hal yang ingin ia lakukan, bertemu dengan pria yang menajdi topik pembicaraannya dengan Suzy.

Dengan langkah tergesa-gesa, Sehun melangkah kearah lift yang akan membawanya ke lantai 4, dimana Departemen Psikiatri berada. Namun niatnya terurung, karena seorang pria yang baru saja muncul saat pintu lift terbuka dengan cepat menarik lengan Sehun yang terlihat sedang menahan emosinya.

“Sehun-ah, kau ingin kemana?” Suara tegas Jongin memekik bersamaan dengan pegangan erat ditangan Sehun.

“Aku ingin bertemu Luhan Hyung.” Jawab Sehun yang berusaha melepas genggaman tangan Jongin yang berdiri didepannya.

“Sehun-ah, tenanglah! Kau tidak perlu emosi seperti ini.” Jongin yang tak ingin perang saudara benar-benar terjadi, semakin mengeratkan pegangannya dilengan Sehun, tak mempedulikan usaha keras sahabatnya itu yang ingin melangkah masuk kedalam lift.

“Kau gila?! Lepaskan tanganku!” Merasa usahanya sia-sia, Sehun melemlar tatapan tajam kearah Jongin yang saat itu juga melepaskan tangannya dari lengan pria anti skinship itu.

“Apa yang ingin kau lakukan jika bertemu Luhan Hyung? Sudahlah Oh Sehun! Luhan Hyung sudah melepaskan Suzy untukmu!” Jongin tersulut emosi, suaranya meninggi dengan tatapan tak kalah tajam pada Sehun.

“U-untukku? Apa maksudmu?” Sehun melemaskan otot matanya yang menegang, kini tatapan dan air mukanya berubah menjadi tatapan dalam, menuntut penjelasan dari sang lawan bicara.

Tsk! Sebenarnya aku tak ingin terlibat dengan urusan kalian bertiga, tapi-

“Apa Luhan Hyung sudah tahu tentang perasaanku untuk Suzy?” Sehun menyela ucapan Jongin saat ia sudah berhasil menyimpulkan apa maksud dari ucapan Jongin barusan.

“Iya.” Jongin mengangguk singkat, dengan jelas ia bisa melihat raut wajah Sehun yang berubah penuh dengan penyesalan. Tak lagi berniat menghalangi, Jongin membiarkan pemuda Oh itu melangkah kedalam lift dan membiarkan Sehun menyelesaikan masalahnya sendiri.

Kaki jenjangnya melangkah dengan cepat menuju sebuah ruangan khusus yang berada dipojok Departemen Psikiatri Rumah Sakit ini. Sehun menarik nafas panjang dan kembali menghembuskan nafasnya, mengendalikan emosinya agar tidak meluap saat masuk dan menemui seseorang yang berada didalam sana.

Tok… Ttok.. Ttokk…

Tiga ketukan Sehun lakukan dipintu kaca buram Ruangan khusus dokter Psikiatri yang memiliki banyak pasien yang menjadi tanggung jawabnya.

“Masuk.” Ucap Luhan dengan suara berwibawa-nya, layaknya seorang dokter prfessional.

“Hyung.” Sehun membuka daun pintu, menyembulkan setengah badannya kearah Luhan yang tampak terkejut melihat kehadiran Sehun diruangannya.

“Sehun-ah, Ada apa? Masuklah.” Luhan bangkit dari duduknya, mempersilahkan Adiknya untuk duduk disofa yang berada diruangan pribadinya itu.

“Tidak, aku hanya ingin memberitahu bahwa Suzy sudah sadar tadi.” Jawab Sehun yang dengan senyuman canggungnya bersarang dibibir mungilnya. Tentu saja Luhan tahu akan hal itu, ia sudah lebih dulu mendapat kabar dari Jongin sebelum Sehun sampai keruangannya.

“Benarkah? Ah.. Syukurlah kalau begitu.” Dengan wajah yang dibuat se-tenang mungkin, Luhan ikut menyimpulkan senyumnya. Meraih satu botol air mineral dari lemari es-nya dan ia letakan dimeja depan Sehun.

“Hyung…” Sehun kembali membuka suara, tatapannya lurus kearah Luhan yang kembali duduk dikursi depan meja kerjanya dan kembali menatap beberapa lembar berkas pasien-pasiennya.

Hmm?” Gumam Luhan singkat, matanya masih sibuk membaca rentetan tulisan mengenai kondisi pasien-pasiennya. Ayolah! Saat ini Luhan juga tengah berlakon agar tak memperlihatkan rasa canggungnya pada Sehun.

“Apa kau pernah melihat Jurnal dikamarku?” Sehun memulai konversesi-nya. Ia sudah tak bisa menahan diri untuk tidak menyelesaikan masalah ini dengan keluarga satu-satunya yang ia miliki.

Hmm? Tidak, aku tidak melihat foto-fotomu.” Luhan yang merasa terkejut dengan serangan pertanyaan itu, lantas tanpa sadar menjawab pertanyaan yang membuat Sehun menyunggingkan senyum miring dibibirnya.

“Apa kau melepaskan Suzy, karena aku?” Pertanyaan Sehun sukses membuat Luhan menolehkan wajahnya, beralih dari tumpukan berkas kearah Sehun yang tengah menatapnya.

“Jika aku mengatakan tidak, kau pasti tahu itu bohong.” Kedua pasang mata itu semakin tenggelam dengan tatapan yang ditujukan dari lawan bicaranya, semua perasaan berkecamuk menjadi satu dalam perasaan kedua pria yang menyandang status sebagai Saudara kandung itu.

“Hyung…” Sehun besuara lirih, bola matanya mulai bergetar lantaran genangan air mata mulai mengisi kantungnya.

“Jangan tanya bagaimana perasaanku. Kau pasti tahu, aku tidak baik-baik saja. Itu pilihanmu ingin merasa bersalah atau tidak padaku, tapi satu hal yang harus selalu kau ingat. Kau harus menyelesaikan apapun yang sudah kau mulai… Seperti aku yang sudah memulai hubungan dengan Suzy dan sudah menyelesaikan dengan cara seperti ini..” Luhan bangkit dari duduknya, berjalan mendekat kearah Sehun yang masih terduduk lemas dengan kedua tangan mengepal disisi tubuhnya.

“Aku tidak pernah menyuruhmu menyelesaikan urusanmu dengan cara sepertiku. Kau harus berjanji padaku, kau akan menyelesaikan dengan cara yang lebih indah dan membahagiakan Suzy. Kau tahu Sehun-ah… Aku sedikit merasa senang karna gadis yang membuatmu bahagia itu, Bae Suzy. Aku sudah melepaskannya, jika kau berfikir itu karena dirimu, maka berfikirlah seperti itu. Anggap saja itu caraku untuk membuat orang-orang yang berharga dalam hidupku-bahagia.” Lanjut Luhan dengan suara tenangnya, dokter tampan itu mengulum senyum tulus. Benar-benar tulus. Dengan berani ia menepuk pelan pundak sang Adik yang masih menatapnya dengan mata merahnya.

“Aku harus memeriksa keadaan pasienku, kembalilah kekamar Suzy. Titip salamku untuknya.” Ucap Luhan saat Sehun bangkit dari duduknya, pria yang mengenakan jas putih kebesarannya itu semakin menyunggingkan senyum lebar kearah Sehun. Entahlah, Luhan merasa sedikit tenang karena masalahnya mungkin sudah selesai saat ini, sehingga tak ada lagi alasan untuk terlihat sedih didepan Sehun, Adiknya.

***

Setelah pembicaraan yang baru saja menyelesaikan masalah diantara mereka itu. Luhan yang sejak tiga hari lalu seakan tak peduli lagi dengan logika yang selama ini selalu ia gunakan saat melakukan sesuatu, tengah asik mengurung dirinya didalam Apartemen ditemani dengan beberapa botol Vodka yang membuatnya kehilangan kesadaran dan berakhir tidur dalam keadaan mabuk dan bangun dalam keadaan pusing, seperti itu terus selama tiga hari ini. Ia rasa ini bukan hal berlebihan dalam situasi seperti yang ia rasakan saat ini.

“Hyung!!! Apa kau ada didalam?” Suara ketukan pintu yang terdengar bersamaan dgan suara teriakan pria dibalik daun pintu itu terdengar sangat kencang.

“Luhan Hyung! Buka pintunya!” Jongin ikut menyuarakan perintahnya. Pria Tan yang menemani Sehun saat ini, terus saja ikut meng-gedor daun pintu dengan kekuatannya.

Aish*t! Kenapa aku tak pernah tahu password Apartemennya!” Sehun mengumpat pada dirinya sendiri, betapa bodohnya ia saat ini karena tak pernah ingin tahu hal-hal kecil tentang Luhan, seperti password Apartemennya.

“Aku akan panggil Security.” Pria Tan itu tampaknya tak kehilangan akal seperti Sehun yang saat ini hanya terus menggunakan otot-nya untuk membuka pintu terkunci itu.

Dengan berlari cepat, Jongin mencari Security yang pasti memiliki Master Key untuk Apartemen dibangunan ini, dan dugaannya tepat. Security itu dengan sigap membuka pintu Apartemen Luhan yang sudah satu jam lalu di-gedor oleh Sehun dan Jongin.

“Hyung!!!” Sehun memekik, berjalan cepat kearah Luhan yang tengah duduk diatas permadani yang menjadi alas ruang tengah-nya, wajah pucat, kemeja putih yang sudah berantakan ditubuhnya yang saat ini menyandar dibawah sofa yang menoleh kearah Sehun dan Jongin yang sudah berdiri didepannya.

“Sehun-ah…” Luhan membuka suara, mata sayunya sekuat tenaga ia buka untuk menatap jelas kearah Sehun yang terlihat sangat panik saat ini. Dengan cepat Sehun meraih tubuh Luhan dan merebahkan dokter tampan itu diatas sofa. Jongin yang melihat sikap Sehun hanya terdiam, ia rasa phobia Sehun benar-benar sudah sembuh saat ini.

“Hyung… Maafkan aku. Maafkan aku karena sudah membuatmu seperti ini.” Sehun tak bisa menahan isak tangisnya, ia berkali-kali mengeratkan genggamannya ditelapak tangan Luhan yang terasa sangat dingin. Air mata terus saja lolos dari kedua kelopak mata-nya, membiarkan cairan bening itu membasahi sela-sela jari Luhan yang berada digenggamannya. Sang empu-nya hanya terdiam karena sudah kehilangan kesadarannya lagi.

***

Disebuah Apartemen yang ditempati oleh seorang gadis yang sudah menjadi pengangguran sementara menunggu projek baru, terlihat bersih dan sangat rapih. Bisa dilihat sang pemilik sedang berusaha keras, menata kembali hidupnya yang sempat berantakan dan kacau beberapa hari lalu. Ya, Bae Suzy yang sebenarnya tak berniat sama sekali memulai kehidupan baru, dengan terpaksa haru mencoba merapihkan hidupnya yang berantakan karena ulah kedua pria yang sejak seminggu lalu tak lagi menganggu hidupnya.

Drrrt… Drrrrt…

Getaran yang berasal dari ponsel pintar yang berada diatas meja kaca itu lantas membuat sang pemilik merubah atensi-nya dari layar televisi kini kearah ponsel yang baru saja ia raih. Iris coklat hazelnut-nya membulat sempurna begitu melihat sebuah nama seseorang yang sempat menganggu fikirannya kini menghubunginya.

Yeobssaeyo.” Ucap Suzy begitu menjawab panggilan dari seseorang disebrang sana.

“Bae Suzy, apa kau sedang sibuk?” Suara serak seorang pria terdengar, suara yang terakhir kali Suzy dengar saat ia berada dikamar inap Rumah Sakit minggu lalu.

“Ti-tidak. Ada apa Sehun-ssi?” Balas Suzy dengan suara gugupnya. Ya, Sehun baru saja kembali menghubunginya. Suzy menarik oksigen dalam-dalam, guna mengendalikan degup jantungnya yang berdetak tak beraturan. ‘Apa-apaan ini, apa saat ini kau merasa senang Bae Suzy?’ Gumam Suzy pada batinnya.

“Bukankah kita belum sempat merayakan selesainya projek kita? Bagaimana kalau kita rayakan hari ini?” Tanya Sehun dengan nada suara antusiasnya, yang hampir membuat Suzy mengulum senyum tipis dibibirnya.

“Merayakan? Hari ini? Apa yang ingin kau lakukan?” Suzy mengulang kembali ucapan Sehun, tak bisa dipungkiri saat ini ia merasa bingung. Tentu saja, setelah seminggu tak menghubungi, tiba-tiba pemuda itu mengajaknya merayakan sesuatu.

“Apapun yang ingin aku lakukan, kau harus mau. Bagaimana?” Dengan santainya pria itu membuat tawaran yang entah apa maksudnya.

“Ba-baiklah.” Dan dengan bodohnya Suzy menerima tawaran tak jelas itu. Bahkan sedetik kemudian Suzy mengutuk dirinya karena dengan mudahnya menerima tawaran itu.

“Aku akan menjemputmu satu jam lagi. Bersiap-siaplah.” Kalimat terakhir Sehun sebelum pria itu memutuskan panggilan secara sepihak yang tak bisa dipungkiri membuat Suzy merenggut kesal karenanya.

***

Menghabiskan waktu satu jam didalam mobil dengan suasana canggung hanya berdua, akhirnya Sehun menepikan mobilnya dan memakirkannya didepan sebuah bangunan yang cukup ramai sore ini. Sehun menolehkan kepalanya kearah Suzy yang duduk disampingnya, seakan bertanya apakah gadis itu siap merayakan pesta mereka berdua, dan Sehun mengulum senyum manis begitu mendapat anggukan dari gadis cantik disampingnya.

Mereka berdua berjalan berdampingan menuju pintu gerbang yang terdapat beberapa badut berkarakter tokoh-tokoh Disney yang digemari anak-anak yang menjadi hampir 70% adalah pengunjung disini. Sehun memberikan dua lembar karcis kearah petugas didepan gerbang dan setelahnya mempersilahkan mereka berdua masuk kedalam dunia penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan itu.

Ya, Sehun saat ini tengah membawa Suzy ke Taman Bermain yang dikenal memiliki nama Lotte World yang terkenal di Negeri gingseng ini. Dengan senyum sumringahnya Sehun melangkah masuk bersama Suzy kedalam area itu.

“Ayo, kita bersenang-senang.” Ucap Sehun yang tanpa diduga meraih jari-jari lentik Suzy dan menggenggam erat telapak tangan kanan Suzy yang sempat terdiam disampingnya.

“Sehun-ssi…” Suzy seolah baru saja menyentuh aliran listrik, tubuhnya terasa sedikit tersetrum dan bergetar begitu merasakan genggaman erat dan hangat jari-jari Sehun yang terselip diantara jari-jari lentiknya.

“Aku akan mengandalkanmu, dan kau juga bisa mengandalkanku.” Sehun kembali berucap, mengulas senyum paling tampan dibibirnya yang berhasil membuat Suzy tanpa sadar ikut mengulum senyum padanya.

Kedua anak muda itu mulai merayakan pesta yang direncanakan Sehun, entah apa yang akan terjadi nanti. Sehun dan Suzy seolah lupa dengan phobia yang mereka derita, keduanya terlmapu bahagia menaiki beberapa wahana yang bisa membuat mereka berteriak untuk melepaskan beban yang selama ini memberatkan hidup mereka. Dari mulai menikmati wahana Viking, Roller Coaster, Drunken Basket, Boong-boong Car, Rumah kaca, hingga Rumah hantu sekalipun. Bahkan tangan yang saling mengait satu sama lain itu tak sedetikpun terlepas dari keduanya.

“Kau ingin rasa apa?” Tanya Suzy yang sedang menyebar pandangannya kearah papan daftar menu Ice cream yang dijuak dikedai dalam bangunan taman bermain itu.

Green tea.” Jawab Sehun yang pandangannya tengah asik memperhatikan beberapa bando-bando berbentuk karakter tokoh Disney yang berada disamping kedai Ice cream.

Suzy mengangguk mengerti, gadis itu lantas memesan dua cup Ice cream rasa green tea dan Vanilla untuk dirinya. Setelah membayar pesanan yang sudah disajikan, Sehun kembali menarik lengan Suzy kearah toko yang sejak tadi mencuri atensi-nya. Suzy yang melihat kemana ia dibawa Sehun, hanya menurut saja. Gadis itu lantas duduk disebuah bangku kecil berbentuk buah Cherry didepan toko itu, menahan dingin lantaran dua Cup Ice cream bertengger ditelapak tangannya yang bebas, karena Sehun belum juga mengambil miliknya.

img_20161012_133254.jpg

Seperti sudah sifat alami Sehun, pria itu selalu melakukan hal yang tak terduga. Seperti saat ini yang baru saja memakaikan bandanan berbentuk telinga kelinci dikepala Suzy tanpa permisi. Tentu saja sang pemilik kepala itu, menatap dengan ekspresi bingung namun terlihat menggemaskan dimata Sehun, pemuda itu hanya tersenyum dan melangkah masuk kearah kasir tanpa lupa menarik lengan Suzy agar mengikutinya.

Setelah menikmati Ice cream masing-masing, keduanya kembali bermain dengan berbagai wahana yang sangat seru jika dilewatkan begitu saja. Tanpa sadar bahwa sudah hampir 3 jam mereka berada disana. Dirasa sudah lelah, Sehun pun mengajak Suzy beristirahat disebuah taman diluar area taman hiburan itu.

“Woah… Cantiknya.” Ucap Suzy dengan tatapan kagumnya begitu memasuki area taman denagn berbagai macam lampu warna-warni yang membentuk beberapa gambar seperti bunga, pohon bahkan kereta labu disana.

“Kau suka?” Sehun menolehkan kepalanya, menatap kearah Suzy yang mengangguk dengan senyuman yang tak lepas dibibir merahnya, masih asik menikmati kelap-kelip lampu warna-warni didepannya.

“Apa hari ini aku berhasil membuatmu bahagia?” Sehun kembali melempar tanya, kini tatapannya beradu dengan kedua mata coklat Suzy yang baru saja menatapnya.

“Iya.” Jawab Suzy dengan ekspresi bahagianya, tentu saja Suzy tak berbohong tentang perasaan bahagianya saat ini. Untuk pertama kalinya sejak menderita agoraphobia, ia datang ke Taman bermain yang sangati ramai seperti ini, dengan seorang pria-pula.

“Berarti… Janjiku dengan Luhan Hyung sudah aku tepati.” Balas Sehun yang kembali menyunggingkan senyumannya, sedetik kemudian ia melonggarkan tautan jari-jari tangannya dan melepas genggaman yang sejak 3 jam lalu menggenggam erat tangan mungil Suzy, yang saat ini tengah menatap lengan Sehun melepaskan genggamannya.

“Bae Suzy, malam ini… Aku akan menyelesaikan apa yang sudah aku mulai bersamamu.” Sehun kembali bersuara, rentetan kalimat yang belum bisa dicerna oleh fikiran Suzy, lantas membuat gadis itu hanya menatap lurus kearah Sehun yang memberikan tatapan dalam dari dwimanik-nya tepat menusuk iris coklat Bae Suzy.

~ To be Continue ~

YOHOOOOOOO!!!
Akhirnya berhasil menyelesaikan masalah yang memperkelik Siblings kesayanganku itu….
Please… Jangan benci Luhan atau benci Sehun, apalagi benci Mbak Suzy… Disini ngga ada yang salah kokkkk… Kan cinta ngga pernah salah /EAKKKK/MAAF NGGA JELAS, efek Nonton Baekhyun-ku nempel2 bibir sama Mbak penyanyi itu. Hikshikshiks😭😭😭

Kabar bahagia…. Heal Me Love Me tinggal 1 Chapter lagi, yaitu Final Chapter /YEAYYY/
Dan setelah Fanfict ini selesai, aku akan usahain bikin Fanfict Her Groom comeback ya. Bagaimana? Setujuuuu???

Minta maaf kalau Feel dan jalan cerita Chapter ini mengecewakan, By the way Terimakasih buat yang selalu setia baca dan meninggalkan jejak.

Love,

Rach.❤️

Iklan

13 pemikiran pada “Heal Me, Love Me [Chapter 12]

  1. Ahh kak rach sumpah chap ini bikin aq super duber baper….kasihan banget luhan gege… ahh rasanya dy yang paling terluka walau sebenernya semuanya juga terluka…
    Apa maksud ucapan sehun ke suzy…apa sekarang jd sehun gantian ngerelain suzy buat luhan…adwee uri suzy jgn dilempar2 donk perasaannya…hahaha…
    tapi jujur hbs baca chap ini aq ga rela suzy sm sehun kl ngeliat kondisi luhan #maksudnyabiarsehunsamaaku… atau drpd suzy sm salah satunya mending suzy kali ini jomblo aja hahaha #evillaugh…ditunggu next chapnya kak…ff kakak selalu sukses bikin baper ga pernah mengecewakan kekeke…fighting

    Suka

  2. Aku nggak bisa comment apa2 kak,aku bener2 nggak tau harus ngomong apa.chapter ini bener2 menyayat hati dan bikin nangis
    next chapter ditunggu ya kak,hwaiting!!^^

    Suka

  3. Huaaaah mewek nih meweeeeek :”(
    Kenapa Luhan bisa sekuat itu sihh???? Plis deh ka rach, tinggal satu chapter lagi tapi masih bikin galau-_-
    Jangan sadis2 napa sama dokter Lu ;(
    Semangattttt, jangan kelamaan ya final chapnya hehe

    Suka

  4. Skrg aku ngerasa bahwa sehun yg bakalan ninggalin putusin hubungan dgn suzy, pdhl suzy sendiri sdh ada getar2 aneh di hati nya… krn sehun melihat kondisi luhan yg kacau tdk baik minum minuman beralkohol dan seperti org kehilangan arah… Jadi akhirnya suzy bakalan sama siapa? Sehun atau luhan? Atau tdk dgn keduanya..
    Ini tgl 1 chap lg ya? Ditunggu sangat deh…

    Suka

  5. Rach seperti biasa kamu membawa kebaperan lain 😆 aku miris ke lu , Seh sama Suzy unnie -.-
    Perasaan ku ikut campur aduk … Harusnya mereka menyelesaikan masalah tanpa masalah
    Dan itu Lu kenapa dengan mu . Kadang psikiater butuh penenang jiwa juga Lu maka dari itu sini aku sayang sayang 😂
    Akhirnya ada berita dari Her Groom
    Dan ahh ini sudah mau final 😆 ahh sanggup kah aku move on dari psikiater tampan

    Suka

  6. Why can’t you hold me in the street?
    Why can’t I kiss you on the dance floor?
    I wish that it could be like that
    Why can’t we be like that? Cause I’m yours
    I’m yoursssssssss~ lagunya little mix emg bagus2 kkkk~
    Sumpah ini lagu yg udh beberapa hari ini aku puter2 terus+aku hafalin liriknyaaaa
    Lagunya menyentuh bangetttttt, ini pas banget buat suzy sama sehun huhuhu~
    Iyaaa aku tau kalo luhan tersakiti disini, tpi bisakah kita melihat dri sudut pandangnya sehun dia juga tersakiti, dan yg paling tersakiti ya suzy masa dia diover kesana kesini, ini lagi sehun saat suzy mulai menata hidupnya lgi dia malah dateng dan sekita buat hidup suzy berantakan lagi huaaaaa :’)
    Udahlah mereka gak usah sama kedua2nyaaa, meniding munculin chanyeol, jdi suzy sama chan ajaa wkwkwk udah selesaiii ahahaha #peacekakPut hehehe
    Tinggl 1 chapter lgi nih? Duhhh berharap hunzy sih kkkkk~
    Next chapter ditunggu kak^^
    Fighting 🙂

    Suka

  7. Tuhan mutusin suzy karena sehun dengan cara dia….skg sehun juga sperti itu….kalian suzy kaya d permainan kedua pria…berharap maksud sehun untuk memulai…d tgg klnjutannya n comeback her groom nya

    Suka

  8. Woaaa.. Luhan benar2 kakak yg baik…. dia sadar betul bahwa kesembuhan Sehun berkat Suzy n dia jg menyadari kl perasaan Suzy padanya tidak seperti dulu lagi. Yg kutakutkan adalah kl Sehun jg mau melepas Suzy u hyungnya.. lah kan Suzy nya kasian jd bola hhihi…. mudah2an nggak. Mungkin maksudnya menyelesaikan adl melamar Suzy… hihihhihi…
    Tinggal 1 chap… sedih jg… krn suka banget sm fairytale ini. Mudah2an akan ada special chap… hehe.. amin. Semangat ya kak… makasih byk

    Suka

  9. Sehun pasti mau melepaskan suzy agar ia bisa kembali lagi pada luhan. Wae??? Setelah luhan yg melepaskan suzy untuk sehun, sekarang sehun juga mau melepaskan suzy untuk kembali ke luhan. Apa para namja itu tidak berpikir dampak dari semua itu pada suzy. Memangnya suzy apa?? Dilempar-lemparkan kepemilikannya, gitu?? Saat suy masih mencintai luhan , luhan justru melepaskan suzy untuk adiknya dan sekarang setelah suzy yg mulai melupakan luhan dan menerima sehun, sehun justru akan menyuruh suzy kembali pada luhan.
    Sebenarnya suzy harus sama siapa loh?????
    Next part.a ditunggu author…… fighting

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s