wp-1473387362272.jpeg

Artwork and Fan Fiction

🎬 Present by Rach 🎬

Drama, Romantic, Angst – Twoshoot – Teen

Starring of Park Chanyeol and Bae sooji

Bae Sooji Point of View

Happy Reading~

Pagi ini aku sedang mengeringkan rambutku dengan hair dryer didepan cermin dimeja rias kamarku. Mengoles beberapa make up tipis dan simple untuk memulai aktivitasku diawal bulan September yang menandakan musim gugur telah tiba. Selesai dengan ritual sebagai seorang wanita bernajak dewasa, aku melangkah meninggalkan apartemen dan menuju kampusku seperti biasa.

Memakan waktu 30 menit untuk aku sampai digedung megah Universitas ini, aku berjalan santai menuju ruang kelas dimana Hyemi yang sejak tadi mengirimiku pesan singkat untuk cepat datang kekelas, menungguku. Satu langkah sebelum aku masuk kedalam ruang kelas, lengan mungilku segera ditarik oleh gadis berhidung mancung yang sejak dulu menjadi sahabatku.

“Kau tahu Sooji-ya, Chanyeol Oppa terkena skandal!!!” Teriak Hyemi dengan mata melotot menatap geram kearahku. Deg! Aku tak kalah terkejut, apa Hyemi sudah tau semuanya? Tapi dengan cepat aku kembali mengendalikan diri agar tak terlihat gugup didepan wanita yang akan menjadi seorang Psikolog, sepertiku.

“Benarkah?” Hanya kata itu yang bisa terucap olehku, sedetik kemudian Hyemi menjulurkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto Kekasihku bersama seorang wanita yang memakai dress hitam. Yap, itu diriku. Untung saja wajahku dan Chanyeol di blur oleh pihak Dispacth, paparazzi terkenal di Korea selatan.

“Astaga, siapa wanita itu?! Sial!” Hyemi mulai geram, mengumpat dengan suara keras. Aku hanya bisa meneguk saliva-ku dengan susah payah. Asal tahu saja, Hyemi memang tak pernah tahu tentang hubunganku bersama Chanyeol.

Aku melangkah gontai kearah kursiku, mendudukan diri disana dengan raut wajah gugup. Untung saja Hyemi tak terlalu pintar dalam materi kuliah tentang membaca ekspresi seseorang. Hyemi ikut duduk disampingku, berkali-kali gadis itu menghembuskan nafas kasar menahan emosinya. Aku mengerti hal itu, semua fangirl pasti akan merasakan hal yang dirasakan Hyemi jika bias-nya terkena skandal kencan, seperti Chanyeol EXO saat ini.

***

4 jam sudah aku habiskan digedung kampus ini, aku berjalan menuju taman kampus tempat biasa para mahasiswa-mahasiswi ber-santai ria dibukit hijau ini bersama dengan Hyemi yang menggandeng erat lenganku. Untung saja emosi gadis itu sudah reda karena materi kuliah dikelas yang sulit membuatnya harus melupakan gosip menyebalkan itu.

“Sooji-ya kau tahu, kemarin malam aku datang sebuah taman dipinggiran sungai Han yang barus diresmikan itu. Indah sekali, banyak lampu berwarna-warni berbagai bentuk disana.” Hyemi memulai hobi-nya yang suka bercerita padaku, sesaat kami berdua duduk direrumputan hijau ini.

“Benarkah? Kau datang kesana bersama siapa?” Tanpa dijawab hyemi pun sebenarnya aku tahu gadis itu pergi bersama siapa, hanya saja aku ingin terlihat tertarik dengan ceritanya kali ini, agar ia tidak membahas masalah skandal kekasihku tadi.

“Tentu saja dengan Taemin, Ah… Taemin bilang, Minho sunbae menanyakan tentang dirimu pada Taemin.” Hyemi berucap, mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto-foto manis dirinya bersama kekasihnya.

“Apa? Menanyakan tentangku bagaimana?” Mataku membulat, tentu saja aku sedikit terkejut mendengar ucapan Hyemi barusan.

“Minho sunbae bertanya, apa kau memiliki kekasih atau tidak.” Suara pria menginterupsi seraya duduk disamping Hyemi dan tersenyum dengan wajah tampannya. Hyemi dan aku sontak menoleh kearahnya, berbeda dengan ekspresiku yang terkejut, Hyemi malah tersenyum senang melihat kehadiran kekasihnya itu.

Aku hanya tersenyum, kembali menatap layar ponsel Hyemi dan melihat foto-foto manis Hyemi dan Taemin. Bahkan walaupun aku sering melihat adegan romantis kedua anak manusia itu, aku masih sedikit merasa iri jika melihat foto mereka berdua.

“Jadi bagaimana, apa kau memiliki kekasih Bae sooji?” Taemin kembali bersuara, menatap kearahku yang berpura-pura tak mendengar.

“Sooji memiliki kekasih, sayang. Tapi… Sampai sekarang aku tak tahu siapa kekasihnya itu.” Hyemi menggidikan bahunya, tersenyum tipis kearahku.

“Coba tunjukan foto kau dan kekasihmu, pasti ada kan di ponselmu?” Taemin kembali bersuara, tanpa permisi Hyemi meraih ponselku yang tergeletak diatas pahaku. Namun, sedetik kemudian gadis itu menghembuskan nafas kasar dan meletakan kembali padaku.

“Ponselnya di password, itu ponsel atau Apartemenmu, hah?” Hyemi mendik kesal, bersamaan dengan Taemin yang tertawa karena ucapan kekasihnya tadi. Tak mau kalah, aku pun ikut tertawa sampai akhirnya tak sadar aku meneteskan air mata.

“Sooji-ya kau kenapa?” Hyemi membulatkan matanya, terkejut melihatku yang tiba-tiba menangis seperti ini. Aku hanya menggeleng, karena sebenarnya aku juga tak tahu kenapa mata ini tiba-tiba ber-air.

“Maaf, aku tak bermaksud membuatmu menangis, aku percaya kok kau memiliki kekasih.” Hyemi memelukku, mencoba membuatku berhenti menangis. Karena ucapannya tadi aku sadar alasanku menangis saat ini.

Aku merasa iri dengan Hyemi yang bisa dengan mudah memperlihatkan dan menceritakan kemesraannya dengan kekasihnya pada orang-orang. Sedangkan aku? Dan, hal ketiga yang tidak bisa aku lakukan dengan kekasihku adalah Memperlihatkan foto-foto manis dan menceritakan kisah manisku dengan kekasihku pada orang lain, termasuk sahabatku.

***

Setelah kejadian terungkapnya skandal akibat foto Dispacth sialan itu, Chanyeol semakin tak memiliki waktu untukku. Ia berkali-kali meminta maaf karena tak bisa menemuiku, itupun atas perintah Manager-nya yang melarangnya untuk berhubungan denganku.

“Sooji-ya, aku akan mencari kado untukmu. Tak masalah kan kau berbelanja sendiri di supermarket itu.” Ucap Hyemi tersenyum manis dan menepuk pelan pundakku, ia melangkah meninggalkan aku seorang diri didepan sebuah supermarket yang sangat ramai didalam pusat perbelanjaan mewah di Seoul.

Aku hanya mengangguk, kemudian melangkah santai kedalam supermarket. Aku berjalan menuju tempat bahan makanan untuk masakan korea. Membeli beberapa bungkus rumput laut untuk aku masak besok. Yap, kebetulan besok adalah hari ulang tahunku. Ditengah waktu belanja, tanpa sadar bibirku tersenyum tipis begitu melihat pemandangan yang sejak tadi terpatri dipandanganku. Beberapa pasang kekasih bergandengan tangan, berbelanja bersama, mendorong trolly belanjaan bersama, mencicipi makanan atau minuman taster bersama.

Aku menarik nafas dalam, tak ingin terlalu terbawa perasaan yang tiba-tiba menyesakan dadaku. Dan hal ke-empat yang tak bisa aku lakukan bersama kekasihku adalah Berjalan bersama dan bergandengan tangan ditempat ramai seperti pusat perbelanjaan. Bukankah, semua wanita ingin berbelanja kebutuhan sehari-hari bersama kekasihnya? Aku pun juga ingin seperti itu, batinku.

Aku kembali lagi pada kenyataan, mempercepat kegiatanku memilih bahan makanan dan kebutuhan untuk merayakan ulang tahunku besok hanya bersama Hyemi dan Taemin, mungkin. Namun langkah-ku terhenti, begitu sosok pria bertubuh agak kekar menghalangi jalanku dan menatap serius kearahku.

“Apa kau Bae Sooji?” Pria itu menelisik wajahku, seakan memastikan bahwa aku benar-benar wanita yang ia cari.

Aku tak menjawab, aku ingat ucapan Ibuku agar tidak berbicara pada sembarang orang asing, dan aku kembali melanjutkan langkahku, berniat meninggalkan pria yang belum terlalu tua itu.

“Saya manager Chanyeol.” Pria itu kembali bersuara, lantas membuatku menghentikan langkah dan terdiam ditempat. Pria itu mendekat kearahku, menatap serius ke wajahku yang sedang menahan gugup.

“Bisa berbicara sebentar? Ada yang ingin saya sampaikan padamu, Nona.” Pria itu kembali bersuara, aku hanya mengangguk pasrah begitu melihat tatapan tajam pria itu. Aku berjalan dibelakangnya, mengikuti langkahnya menuju keluar supermarket. Dan membawaku disebuah kursi yang berada dipinggir mall itu.

“Saya akan to the point. Saya memang tak tahu sudah sejauh apa hubungan kalian berdua. Tapi-“

“Apa anda ingin menyuruhku untuk melepaskan Chanyeol?” Aku memutus ucapan pria itu. Jujur saja, aku sudah tahu apa yang sebenarnya akan dibicarakan pria itu.

“Iya, karena saya tidak berhasil menyuruh Chanyeol untuk melepaskanmu.” Pria itu menatap serius kearahku, tentu saja ucapan itu membuat bibirku bergetar, apa benar Chanyeol tak mau melepaskanku? Batinku.

“Apa menjalin sebuah hubungan itu sebuah kesalahan?” Aku berucap, tak bisa lagi mehanan bendungan cairan bening dipelupuk mataku, kini air mata itu meluncur bebas di-pipi-ku.

“Tentu saja tidak, tapi situasinya berbeda jika dalam kehidupan seorang idol. Apa kau ingin melihat karir yang menjadi cita-cita pria yang kau cintai hancur berantakan hanya karena kau memaksakan hubunganmu?” Pria itu membalas, kini suaranya terdengar lebih sinis. Aku menghapus air mataku, menatap wajah pria dewasa itu.

“Saya tidak bisa.” Aku menarik nafas dalam, menatap tajam kearahnya dan memalingkan tubuhku, berniat ingin meninggalkannya.

“Agensi memberi waktu pada Chanyeol sampai besok tengah malam. Jika Chanyeol belum melepaskanmu sampai batas waktu itu. Maka dia harus bersiap jika Dispatch kembali mengeluarkan foto-foto skandalnya tanpa blur sedikitpun.” Pria itu kembali bersuara, ucapannya membuatku mengurungkan niat untuk melangkah meninggalkannya. Aku menoleh menatapnya, ia melempar tatapan tajam kearahku.

“Apa anda sedang mengancamku?” Aku tersenyum tipis, bahkan ancaman seperti ini tak pernah aku fikirkan akan terjadi di-hidupku.

“Ini sebuah kesepakatan, jika kau menganggap ini ancaman, maka anggaplah seperti itu.” Pria itu membalas senyuman miringku lebih sarkastis lagi. Sedetik kemudian ia melangkah berjalan melewatiku, meninggalkanku yang menahan emosi dengan kedua telapak tangan terkepal dan bibir bergetar.

***

Pagi ini, tepat tanggal 15 September. Umurku bertambah satu tahun menjadi 23 tahun. Aku membuka mata sembabku yang sangat terlihat bengkak, tentu saja penyababnya karena aku menangis semalaman suntuk.

“Sooji-ya!!!” Teriak seorang wanita bersuara cempreng seraya menekan-nekan bell Apartemenku. Aku bangkit dari kasurku, melangkah gontai menuju pintu yang sebenarnya aku sudah ketahui siapa dibalik pintu itu.

“Selamat ulangtahun, Sooji-ku!!!” Teriak Hyemi, begitu aku membuka pintu, ia tersenyum sangat hangat kearahku seraya membawa kue ulangtahun dengan rasa red velvet untukku. Bersama dengan cengiran khas seorang Taemin yang membawa dua kotak hadiah ditangannya. Aku mempersilahkan sepasang kekasih itu masuk dan duduk disofa ruang tv-ku.

“Cepat make a wish! Lalu tiup lilinnya.” Pekik Hyemi, masih menatap bahagia kearahku, seraya menjulurkan kue yang sudah ditancapkan beberapa lilin yang menyala diatasnya.

Aku mengangguk, tersenyum kearah mereka berdua dan memejamkan kedua mataku. Lagi-lagi, kristal bening terjun bebas dari kedua mataku yang terpejam. Sedetik kemudian aku tak bisa lagi menahan rasa sesak di-dada-ku, dan detik itu pula aku menangis se-sengguk-an didepan Hyemi dan Taemin.

“Sooji-ya, kau kenapa?” Hyemi kembali berteriak, ia menggucang tubuhku agar aku membuka mata, dan itu berhasil. Aku menatap dalam kearah Hyemi yang menatapku terkejut, begitu juga Taemin.

“Kenapa kau menangis dihari ulang tahunmu?” Hyemi dengan sigap memelukku, mengelus lembut punggungku, mencoba memberikan ketenangan untukku. Aku masih tak menjawab, rasanya sangat sulit membuka suara ditengah-tengah rasa tercekat dileherku.

“Karena aku bahagia, Hyemi-ya.” Akhirnya aku membuka suara, saat dirasa sudah sedikit tenang.

Hyemi hanya tersenyum, sama seperti Taemin. Kami bertiga mulai menikmati kue bersama, membuka kado pemberian Hyemi dan Taemin serta berbincang ini dan itu. Hyemi memang gadis yang luar biasa baik, bahkan aku suka menyesal karena me-rahasiakan hubunganku dengan… Ah sudahlah, jika membahas hal itu aku yakin akan menangis lagi saat ini.

Matahari sudah menenggelamkan sosoknya, memang waktu tidak akan terasa jika aku sudah bersama Hyemi dan Taemin yang selalu bisa membuat hari-hariku tidak terlalu kesepian.

“Kami berdua pulang, Sooji-ya.” Setelah acara makan sup rumput laut buatanku, Hyemi menawarkan diri mencuci piring.Hyemi melangkah mendekat kearahku dan Taemin yanh sedang menonton acara tv.

“Sudah ingin pulang?” Aku menoleh kearahnya, jujur saja aku belum ingin mereka berdua pergi. Karena aku takut akan menangis lagi jika merasa kesepian lagi.

“Sudah jam 10, aku tak ingin Ayahku membenci Taemin karena membawaku pulang terlambat.” Balas Hyemi, ia meraih tasnya dan mengajak Taemin untuk bangkit dari duduknya.

Aku hanya menghembuskan nafas panjang, pasrah karena memang tak mungkin aku memaksanya untuk pulang lebih malam lagi. Aku mengangguk pelan, kemudian Hyemi mengecup pipi kiri dan kananku.

Aku melangkah bersama mereka menuju lantai bawah dimana mobil Taemin ter-parkir. Sepasang kekasih itu melambaikan tangan mereka dari dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya meninggalkanku. Aku memalingkan tubuhku, melangkah tak bersemangat kembali ke Apartemenku.

Plippp

Pintu Apartemenku terbuka, aku membangkitkan tubuhku dari kasur kamarku. Apakah itu Chanyeol? Batinku. Dengan cepat Aku membuka pintu kamarku.

“Selamat ulang tahun, sayang.” Suara husky pria yang sudah dua minggu tidak menemuiku, kini terdengar bersamaan dengan sosok pria tinggi yang membawa kue coklat ditangannya.

Aku menatap dalam dwimanik mata hitam legam yang sangat aku rindukan, ia tersenyum hangat padaku seolah tak pernah ada yang terjadi diantara kita.

“Cepat buat harapan dan tiup lilinnya, sayang.” Chanyeol kembali bersuara, melirik sekilas kearah lilin yang menyala diatas kue itu. Aku mengulas senyum tipis membalas senyuman hangatnya. Ya Tuhan! Bagaimana mungkin aku tega membiarkan kebahagiannya rusak karena ke-egoisan-ku?

“Kau ingin dengar harapanku?” Aku membuka suara, menatap dalam dwimanik-nya yang bersinar. Ia mengangguk antusias dengan senyumannya yang masih bertengger dibibirnya.

“Kau akan mengabulkan harapanku?” Aku kembali bersuara, menarik nafas panjang sebelum dadaku merasa sesak sebentar lagi.

“Tentu saja.” Ia menjawab cepat, tanpa berfikir panjang.

“Apapun harapanku?” Suaraku bergetar, dengan sekuat tenaga aku menahan air mata yang mulai membendung dikedua mataku, dan aku bisa melihat Chanyeol mengerutkan dahinya melihat ekspresiku saat ini.

“Baiklah.” Chanyeol mengangguk, kembali mengulas senyum setelah mengecup sekilas keningku.

“Aku berharap, ini pertemuan terakhir kita berdua.” Aku memejamkan kedua mataku, menangkup kedua telapak tanganku, seraya berucap kalimat yang langsung membuat air mataku mengalir dipipiku.

“Sooji-ya…” Chanyeol bersuara, aku yakin saat ini ia terkejut karena harapanku barusan.

Chanyeol menggucang tubuhku setelah ia meletakan kue diatas lemari dekat pintu kamarku. Aku membuka kedua mataku, menatap dalam wajah Chanyeol yang mulai mengeras.

“Apa yang kau bicarakan, Bae Sooji?” Chanyeol memegang erat kedua bahuku, menatap tajam kearahku, seolah menuntut penjelasan atas ucapanku barusan.

“Aku ingin melakukan hal yang aku inginkan, aku ingin datang dan pulang bersama saat menonton bioskop dengan kekasihku, aku ingin memberikan air mineral dan menghapus keringat disaat kekasihku kelelahan, aku ingin berbelanja dan mendorong trolly bersama di supermarket bersama kekasihku, aku ingin memperlihatkan kemesraanku bersama kekasihku pada semua orang, aku ingin menceritakan kisah-kisah manisku bersama kekasihku pada teman-temanku. Aku ingin melakukan itu semua, tapi tidak bisa jika aku berkencan denganmu.” Kedua mataku memanas, air mata mulai mengalis bebas dipipiku saat aku menundukan kepalaku tak tahan melihat pria didepanku ikut menangis seperti saat ini.

“Kau fikir aku tak ingin seperti itu? Aku juga ingin melakukan hal-hal seperti layaknya sepasang kekasih biasanya!” Chanyeol berteriak, tentu saja aku terkejut. Aku mengangkat kepalaku, menatap Chanyeol yang sudah menangis dengan sorot mata tajam tepat ke dwimanik milikku. Dan asal kau tahu, ini pertama kalinya Chanyeol berteriak padaku.

“Ah… kita memang sepasang kekasih yang tidak biasa kan?” Entah darimana bibir ini bisa terus berucap sarkastik seperti ini, tapi yang jelas semua yang aku katakan tak ada yang benar-benar berasal dari hatiku.

“Keadaan yang memaksaku harus mengurungkan keinginanku seperti ini, Bae Sooji” Chanyeol bersuara lirih, ia menundukan kepalanya masih dengan tetesan-tetesan cairan asin meluncur dari kedua matanya.

“Maka dari itu, aku tak bisa lagi menerima keadaanmu yang seperti ini.” Lagi, aku kembali mengucapkan kalimat yang entah dari mana bisa menyeruak dari mulutku.

Chanyeol mengangkat wajahnya, menatap dalam kearahku. Aku yakin saat ini ia benar-benar terkejut dengan ucapanku sejak tadi.

“Apa agensiku menemuimu? Apa mereka mengancammu?” Ya, sepertinya Chanyeol sudah sadar sekarang. Aku menundukan kepalaku, namun dengan cepat Chanyeol meraih daguku untuk tetap menatapnya.

“Iya, mereka mengancamku. Aku tak ingin mengambil resiko karena ancaman agensimu itu.” Suaraku serak, seperti tertiban batu besar, dadaku benar-benar sesak. Oh Tuhan, bagaimana mungkin kisah yang biasa aku tonton di drama tv, kini terjadi padaku? Aku terus saja bergulat dengan perasaanku didalam sana.

“Apa kau tak bisa percaya padaku? Aku akan melindungimu.” Chanyeol meraih kedua telapak tanganku, menggenggam erat seakan tak ada lagi hari esok untuk kami berdua. Ya, memang benar. Aku akan memastikan hari ini terakhir kali untuk kita berdua.

“Bagaimana bisa aku percaya padamu? Kau sendiri tak bisa melindungi dirimu!” Aku menepis kedua genggamannya, emosiku sudah memuncak. Astaga Park Chanyeol benar-benar keras kepala.

Chanyeol terdiam, menatap dalam mataku. Kedua tangannya terkepal menahan emosi.

“Baiklah, kalau kau memang ingin seperti itu. Asal kau tahu, aku selalu berfikir bahwa aku memiliki harapan untuk hubungan kita, tapi aku salah. Untuk apa aku berjuang sendiri sejak dulu jika yang aku perjuangkan bahkan tak pernah berharap diperjuangkan.” Chanyeol berucap dengan sekali tarikan nafas panjang, telapak tangannya menghapus jejak-jejak air mata di-pipi-nya.

“Kalau kau memang menginginkan itu, aku akan mengabulkan keinginanmu. Hari ini akan menjadi pertemuan terakhir kita.” Chanyeol kembali bersuara, kini suara terdengar lebih normal. Matanya yang memerah kini menatapku tanpa isyarat.

“Tapi jangan berharap aku akan melupakanmu.” Lanjutnya, ia memalingkan tubuh tingginya dari pintu kamarku, berniat melangkah meninggalkanku.

“Kau pasti bisa melupakanku karena kesibukanmu. Dan aku akan menghapus nomormu, aku tak ingin menganggumu jika besok-besok aku menyesali keinginanku.” Aku bersuara, membuat Chanyeol mengurungkan niatnya untuk melangkah. Ia kembali menoleh kearahku, dengan cepat aku menghapus nomornya diponselku dan menunjukan padanya.

“Kau bisa menghapus nomorku juga.” Ucapku seraya membalas tatapannya, sedetik kemudia ia tersenyum tipis kearahku, senyuman yang terlihat menyedihkan bagiku.

“Aku tidak akan menghapus nomormu. Jika suatu hari nanti aku benar-benar tak bisa melupakanmu, aku akan menghubungimu.” Balas Chanyeol, ia kembali memalingkan tubuhnya, melangkah cepat keluar Apartemen meninggalkanku yang saat itu juga terduduk lemas dilantai.

Aku menangis sejadi-jadinya, bahkan aku rasa ini kedua kalinya aku menangis seperti ini setelah yang pertama saat hadir dipemakaman Ayahku beberapa tahun lalu.

***

3 months later…

Suasana ramai dan ceria menyelimuti kota Seoul, jejeran pohon natal menghiasi seluruh pinggir jalan. Anak-anak yang berlarian bahagia bersama orang tuanya memenuhi beberapa toko yang berada dipinggiran jalan, mencari beberapa kado untuk teman-teman ataupun keluarganya nanti malam. Ya, hari ini tepat tanggal 24 Desember, sehari sebelum hari natal.

Aku melangkah memasuki sebuah cafe bernuansa shabbychic didaerah Hongdae sore ini.

“Sooji-ya, disini.” Seorang pria melambaikan tangannya kearahku, tersenyum manis menyambut kedatanganku.

“Maaf, membuatmu lama menunggu Oppa.” Aku mendudukan diriku didepannya, membalas senyuman manis pria yang lebih tua dariku itu.

“Tidak apa-apa. Kau ingin pesan apa?” Pria itu berucap, masih dengan senyuman manisnya menatapku.

“Apa saja.” Jawabku singkat, aku mengeluarkan ponselku dari tas, memainkan layar sentuh ponselku untuk membuka aplikasi videocall diponselku.

“Kau sudah memikirkan ingin memberi hadiah apa untuk Hyemi dan Taemin?” Pria itu kembali bersuara seraya menyesap ice americano yang sudah lebih dulu ia pesan.

“Minho sunbae…. jangan lupa kado untuk kita!!!” Teriak seorang wanita begitu videocall-ku tersambung padanya.

Ya, itu Hyemi dan Taemin yang sedang berbicara dibalik videocall itu, aku menyerahkan ponselku pada pria didepanku, Choi Minho.

Setelah hari ulang tahunku, aku kembali menjalani hidupku sepert biasa, berjalan-jalan dengan Hyemi dan Taemin, bercerita dengan Hyemi dan Taemin bahkan sekarang kami menambah personil geng bersama Minho Oppa. Aku menjalani hari-hari ku layaknya gadis biasa yang mencoba kabur dari selimut kesepian sebagai seorang jomblo.

Dan Park Chanyeol? Ia tetap melanjutkan kehidupannya sebagai Chanyeol EXO, karena keputusanku hari itu, Dispatch tidak lagi mengeluarkan skandal tentang Rapper itu, dan karirnya tetap cemerlang sampai hari ini.

“Sooji-ya, sepertinya aku tak bisa mengantarmu pulang. Aku harus menjemput Jihyo.” Minho menginterupsi lamunanku, tersenyum manis padaku.

“Ah… Tidak apa-apa Oppa, aku bisa pulang sendiri.” Jawabku, membalas senyumnya agar ia tidak merasa tak enak padaku.

“Kalau begitu, kabari aku jika sudah sampai rumah ya Adikku.” Minho bangkit dari duduknya, mengelus lembut rambutku dan tersenyum hangat sebelum ia melangkah meninggalkanku.

Ya, hubungaku dan Minho hanya sekedar adik-kakak saja, tak lebih dan tak kurang. Jika kalian berfikir Minho dan aku akan berpacaran suatu hari nanti, kalian salah. Karena Minho sudah memiliki Jihyo sunbae, wanita yang dicintainya.

Setelah menghabiskan waktu di cafe sebentar dan membeli beberapa kado natal untuk Hyemi dan Taemin, aku melangkah santai menuju Halte bus. Keberuntungan sedang tidak memihak padaku, sudah hampir satu jam bus yang aku tunggu belum juga datang.

Aku mendudukan diri dibangku yang disediakan di halte bus ini seorang diri, melirik jam yang melingkar dilengan kiriku sudah menunjukan pukul 09:00 p.m. Aku menghembuskan nafas panjang.

Sedetik kemudian butiran-butiran putih seperti kapas turun dari langit, Salju pertama tahun ini turun bersamaan dengan getaran yang berasal dari ponselku, aku meraih ponselku, menatap layar datar itu lamat-lamat dan tanpa sadar sudut bibirku melengkungkan senyum.

Sebuah nomor yang pernah terhapus diponselku, namun kembali aku simpan karena menghafal nomornya, dimalam natal dan malam salju pertama turun, menghubungiku.

Park Chanyeol is Calling…

Dan hal terakhir yang tak bisa aku lakukan bersama kekasihku adalah menentang kenyataan bahwa hubungan kami memang tidak sama seperti kekasih lainnya. Tapi… ada hal lain yang bisa aku lakukan dengannya, memulai kembali dan berjuang bersama untuk hubunganku yang luar biasa.

“Sooji-ya…” suara bariton yang sejak beberapa bulan lalu aku rindukan, kini menyapa pendengaranku begitu panggilan itu tersambung diponselku.

-THE END-

Yeay, Fanfict Twoshoot pertamaku selesai… 💃🏻💃🏻💃🏻

Minta maaf kalau hasilnya mengecewakan, tapi itu bisa kalian simpulkan sendiri kan? Happy ending or Sad ending? Hihihi By the way, Besok akan meluncur next Chapter 2 Fanfic sekaligus dari yang ada di list Fairytale-ku.

Terima kasih sudah baca dan Jangan lupa tinggalkan jejak.❤️

Love,

Rach.

Iklan

20 pemikiran pada “5 things, I could’nt do with My Boyfriend (2/2)

  1. Yeeeeeey happy ending kan ini? Astaga pagi2 dibikin baper gini :”)
    Suka kakkkk, singkat padat dan jelas wkwkw
    Ga sabar nunggu besok hihi
    Semangat kakkkkk

    Suka

  2. Kan makin kaya beneran aja ini ceritanya, bawa2 si dispatch segala kekekek
    Sedih ih sooji harus ngelepasin chanyeol gara2 agensinya itu :”<
    Bikin lagi dong kak twoshoot yg kaya begini, suka konsepnya hehe
    Semangat ka Rach tersayang😘

    Suka

  3. Yeey mengarahnya happy end…. Ahh moment sweet nya mana nih eon kekeke… Bagian kedua ff ini sukses bikin nyesek… Kasihan chanyeol… Tp suzy jg ga bs disalahin… Sebenerny mrka cuma ingin saling melindungi…
    Ditunggu ff lainnya eon… Fighting…😂😂😂😂

    Suka

  4. Waaaah daebak!!!
    Ini happy ending kan? ^^
    Chanyeol gabisa lupain sooji kan, makanya dia nelfon? Cieeeee balik lagi dong hihihi
    Seru kak, singkat tapi pas hehe
    Ditunggu karya2nya lagi, pengennya sih ka rach nanti2 bikin yg kaya begini lagi hehehe fighting!❤

    Suka

  5. Ahhhh seruuuuuuu >,<
    Dari awal nyesek bgt eh ditambah pas sooji minta putus, eh pas baca "Park Chanyeol is calling" langsung nyengir, astagaaaa happy ending. Makasih ya twoshootnya😘
    Ditunggu besok hihi

    Suka

  6. Happy ending kan??? Balikan balikan,,,emang susah ya klo idol ngakuin dia dah jdian ma seseorang, tp ms harus backstreet lg, ko aq yg jdi galau hahhaa

    Suka

  7. Happy ending sih, tapi kok ngegantung gitu ya wkwk (alasan minta sequel) :v
    Cieeee yg putus trs nyambung lagi, tpi kayanya gak putus deh yaaa mereka cuma butuh waktu buat meredam skandal itu, eh pas skandalnya udh tenggelem mereka balikkan lagi kkkkk~
    Kok agensinya nyebelin ya ahaha namanya juga agensi hmmm-_-
    Chanzy kok cocok banget ya kalo dicouplein gitu selain sehun kkkk~
    Cinta mah emg gak kemana, yg namanya cinta pasti bakalan balik lagi ugh! So sweetttttt 😀
    Ditunggu twoshoot yg lainnya eonniiiiii
    Fighting 🙂 😀

    Suka

  8. Sweet ending sih,hehehe
    Tapi aku selalu penasaran sama ceritanya.rasanya selalu nggak rela kalau ffnya kak rach selesai.hehehe
    Ditunggu uldate selanjutnya ya kak,hwaiting^^

    Suka

  9. Pacaran sama idol ga selamanya bahagia ya, masih untung sooji ga diserang saesang fans wkwkwk
    Sebel sama agensinya itu ih, tapi seneng…. happy ending, yeaaay! Balikan❤❤❤❤
    Fighting Rach untuk ff lainnya, berharap sih ada twoshoot macam gini lagi wkwkww

    Suka

  10. Aigooo… jadi mereka bakal berjuang bersama lagi kan??? Chan sebelumnya bilang kl dia akan menghubungi Suzy lg jika dia tak bisa melupakannya… woaahhh benar2 kehidupan suzy adl tiap fans goal .. mksh eonn u ff nya yg selalu keren ini

    Suka

  11. Aaaaah akhirnya balikan kan itu? Cieeeee seneng ih >,<
    Chan gabisa ngelupain suzy kan? Ga semua kesibukan bisa bikin lupa sm ssorang tauuu, huffftt maaf curhat wkwkakakak
    Makasih ya ka rach udah bikin twoshoot gini, kaya bener2 baca buku harian suzy hehehe

    Suka

  12. Yohoooooo~
    Kirain sooji bakal jadian sama minho, untung tetep jomblo
    Ah pasti sooji juga gabisa lupain chan lah kaya chan yg gabisa lupa sooji makanya nelpon sooji.
    Sweet bgt happy endingnya pas salju pertama turun hihi
    Terimakasih ka rach twoshootnya😘

    Suka

  13. ah aku anggap ini happy ending authorim..
    karna chanyeol tidak bisa melupakan sooji dan pernah bilang klo dia akan menghubungi sooji nanti klo dia tidak bisa (sekali lagi) melupakan sooji…
    jadi aku anggap dengan chanyeol menghubungi lagi sooji itu adalah sebual awal yang baik untuk hubungan chanzy kedepan nya..aminn….
    untuk authornim nya dirimu dan ff nya benar-benar super jjang pokoknya ..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s